Bhineka Tunggal Ika

Bosnia? adalah nama sebuah negara.  Mungkin beberapa dari kita bisa mengingat kalau pernah terjadi perang besar antara Bosnia dengan Serbia.  Saya sendiri tidak pernah membaca tuntas sejarah mereka, Saya masih kecil, ketika itu saya dengar fihak Serbia adalah penjahatnya.  Saya mempercayai kalau fihak yang berhak dipersalahkan atas banyaknya korban jiwa adalah Serbia.  Namun ketika saya dewasa, dan saya mulai melihat dunia dari banyak sudut pandang.  Pada usia dua puluhan saya berkesempatan berkenalan dengan seorang gadis Serbia yang tahun kelahirannya sama dengan saya. Dia seorang gadis yang ramah. Tetapi hal tersebut tidak bisa langsung saya kenali disaat hari pertama perjumpaan dengannya. Ingatan mata kecil saya masih melekat kuat dan hal itulah yang menutup hati saya.

Ketika itu saya diundang oleh seorang kawan untuk pergi trekking menyusuri sebuah sungai dan perbukitan, dan kebetulan gadis Serbia tersebut adalah teman lama dari kawan saya. Mereka pernah bekerjasama ketika di Filipina.  Saya diperkenalkan, namun saya tidak bicara banyak.  Meskipun demikian saya bisa langsung mengenali kalau cewek adalah sosok yang ramah. Cewek tersebut dengan sabar dan senyum hangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari orang-orang yang berada di mobil yang saya tumpangi.  Kita berpisah.  Setelah satu bulan, secara tidak sengaja saya bertemu lagi dengan cewek tersebut.   Saat itu saya mengunjungi seorang rekan kerja berkebangsaan Jerman di kantornya, dan ternyata cewek Serbia tersebut bekerja disana.  Pada pertemuan kedua, dia terlihat lebih ramah dan bersahabat. Dia lucu, riang, pintar dan menyenangkan. Saya langsung merasa dekat dan akrab dengannya.  Tak lama setelah itu saya juga menghadiri jamuan makan malam dimana dia memasak salah satu masakan andalannya.  Ketika memasak dia banyak bercerita mengenai negaranya. Bagaimana satu negara akhirnya terpecah belah menjadi banyak negara kecil karena sebuah perang.  Perpisahan tersebut semakin menegaskan perbedaan yang ada.

Karena penasaran sayapun mencari tahu mengenai Serbia. Nama Resminya adalah Republik Serbia.  Serbia merupakan salah satu dari banyak negara pecahan Yugoslavia. Negara lain yang juga merupakan pecahan Yugoslavia adalah: Montenegro, Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Macedonia serta dua daerah otonomi khusus Kosovo dan Vojvodina (kalau tidak salah Kosovo juga sudah menjadi Negara baru).

Tak lama setelah bertemu dengan cewek Serbia tersebut saya juga berkenalan dengan orang Macedonia, kita bekerja di kantor yang sama. Kebalikan dari pribadi yang hangat, ramah, dan bersahabat, sosok Masedonia yang saya kenal terkesan dingin, apatis, dan serius.  Tak lama setelah itu saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan orang Bosnia. Akhirnya saya memiliki cerita dari tiga orang dari negara berbeda namun masih pecahan Yugoslavia.  Kesamaan dari cerita tersebut adalah mereka semua mengutuk perang yang pernah terjadi.  Bagaimana perang banyak membawa dampak negatif dari pada dampak positif.  Bagaimana perang memisahkan mereka dari orang yang mereka cintai, membuat mereka yang sudah miskin menjadi lebih miskin, membuat orang kehilangan tempat tinggal, dan banyak hal buruk lainnya. Akhirnya terlepas dari etnis dan ideologi yang berbeda mereka hanya manusia biasa yang mendambakan cinta dan perdamaian.

Sore ini, saya pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Saya segera menyalakan TV sesampai di rumah.  Saya memencet remot TV dan memindahkan chanel dan berhenti di Chanel Australia Network karena chanel tersebut sedang menayangkan kehidupan paska perang di Bosnia. Judul program TV tersebut adalah Future Express – Bosnia – Awakening in a New Dream.

Kekerasan etnis antara Muslim Bosnia, Kroasia dan Serbia menyebabkan lebih dari 100.000 korban dalam waktu tiga tahun dan jutaan orang mengungsi meninggalkan negara itu. Ketika pertempuran dimulai di tahun 1992, masinis kereta api harus memeriksa setiap stasiun untuk memutuskan apakah aman untuk berkendaraan. Semua lalu lintas kereta api akhirnya berhenti. Sekarang situasi yang damai, dan Sarajevo Express antara Zagreb dan Sarajevo menggunakan tiga kereta api yang berbeda: Serbia, Kroasia dan Bosnia.  Acara ini menampilkan wawancara penumpang mengenai mimpi-mimpi setelah perang yang menakutkan.

Yang diwawancara rata-rata anak muda berusia diatas 20 tahun, dibawah 30 tahun.  Ada anak gadis yang kehilangan ayahnya karena perang dan sekarang dia belajar mengenai hukum. Ada juga anak gadis yang mengambil jurusan politik di Universitas Sarajevo dan berjanji kalau dia tidak akan pernah meninggalkan negrinya. Jikalaupun dia pergi untuk melanjutkan kuliah, dia pasti akan kembali lagi.  Dia ingin membangun negrinya. Dari beberapa wawancara tersebut terlihat bagaimana generasi muda yang terkena dampak perang lebih memahami makna perbedaan.  Mereka lebih toleran dan lebih terbuka untuk berteman dengan orang dari luar etnis mereka.  Salah seorang gadis Bosnia yang diwawancara bercerita kalau dulu untuk duduk minum kopi dengan seorang Serbia adalah hal yang tidak mungkin.  Namun sekarang di kampus dia berteman dengan orang Serbia dan juga Kroasia.  Hampir semuanya juga mengutuk perang yang pernah terjadi. Bahwa perang lebih banyak membawa bencana dari pada manfaat.

Untuk konteks Indonesia, cerita yang sama juga saya dengar dari beberapa kenalan saya dari Aceh, Poso dan Timur Leste.  Perang hanya akan menimbulkan luka, dan luka tersebut tidak akan pernah sembuh. Luka tersebut akan terus tinggal.  Kalau tidak salah saya juga pernah menuliskan mengenai seorang kawan dari Libanon yang juga korban dari sebuah perang, atau saya juga pernah memiliki atasan yang berasal dari Sudan.  Dia bercerita kalau dia kehilangan banyak saudara.  Bahkan dia pernah membopong sambil berlari saudara laki-lakinya yang terluka parah namun akhirnya gagal diselamatkan.

Kita warga Indonesia, yang terdiri dari beragam suku dan agama, jika kita tidak memelihara sikap toleransi, jika kita tidak menghargai orang yang berbeda suku dan agama dengan kita maka tidak mustahil yang sama juga terjadi. Ingatlah mengenai Bhineka Tunggal Ika.  Atau mengenai konsep toleransi yang pernah kita pelajari ketika SD dan SMP.  Jangan pernah menganggap kalau kita lebih baik dari yang lain. Kita semua sama. Masing-masing orang memiliki keunggulan dan kelebihan. Maka hargailah orang lain terlepas dari agama, suku, bangsa, dan warna kulit.

PS:  foto di download dari google

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s