Dufan Here I come

Saya tidak menyukai kota besar termasuk hiburan di dalamnya.  Namun ketika sahabat baik saya berkunjung dan juga didorong oleh keingintahuan mengenai Ancol dan Dufan, akhirnya saya mengambil satu hari liburan untuk mampir kesana.  Jangan ketawa, memang kedengaran menyedihkan, emang umur saya berapa, kok saya belum pernah ke Dufan. Sebenarnya jika saya berniat ingin ke Dufan, dari dulu bisa saya lakukan.  Namun karena saya tidak terlalu tertarik maka saya tidak main kesana.

Teman saya akan meneruskan studi di Australia tahun depan.  Entah kenapa saya berfikir kalau sekembalinya dia dari sana kita tidak akan memiliki banyak waktu untuk berjumpa lagi. Saya membayangkan kalau dia akan menjadi sangat sibuk sekembali dia dari studinya nanti. Dan saya jika tuhan mengizinkan maka saya akan menjalani adventure yang selama ini saya impikan. Kita tidak pernah tahu kemana nasib membawa kita kedepan.

Sayapun mengambil cuti satu hari dan janjian untuk bertemu di satu titik pemberhentian busway yang tidak terlalu jauh dari hotelnya.  Teman saya terlambat hampir 40 menit.  Terminal busway penuh, sesak dan panas.  Terlihat banyak manusia modern disana.  Hampir semua orang tampil dengan dandanan terbaiknya, dan tidak lupa jemari yang sibuk mengetik sms di handphone atau telinga yang disumpalheadphone untuk mendengarkan lagu pop barat. 4 tahun yang lalu busway tidak sesesak sekarang.  Apakah jumlah busway berkurang atau penduduk Jakarta bertambah? Busway yang merupakan pilihan menyenangkan untuk menghindari macet sekarang sudah tidak lagi.  Saya tidak bisa membayangkan orang yang harus mengantri dan berdesak-desakan di busway setiap hari.  Atau orang-orang yang berlari-lari emngejar bis dan bangun pagi-pagi buta supaya tidak terlambat. Banyak orang juga mungkin tidak bisa menjalankan, namun suka atau tidak kehidupan harus berlanjut dan orang harus menjalankannya.

Saya naik busway dari terminal blok M, dan turun di Harmoni, untuk terus ke ancol dengan Busway.  Setiba disana kita membeli tiket masuk ancol seharga 9500 rupiah per orang.  Kitapun menaiki bis gratis ke arah barat dengan harapan bis tersebut akan mengantarkan kita ke restoran Bandar Jakarta. Tetapi bis tersebut berhenti di tempat permainan Gondola, dan menurut pak supir kita harus melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan ke timur.  Setelah menunggu dua jam bis tidak kunjung datang maka saya dengan teman saya berjalan kaki menuju restoran bandar Jakarta yang ternyata tidak terlalu jauh.  Jalanan bersih, dan dikarenakan hari kerja, ancol-pun sepi. Kita berjalan menyusuri pantai dan berhenti di restoran yang menjadi andalan bagi banyak orang yang berlibur ke Ancol.

Kitapun memilih cumi segar untuk dijadikan cumi goreng tepung, udang untuk dilumuri dengan saus ikan asin, dan ikan kakap merah dengan saus bandar.  Baik ikan, udang, dan cumi semuanya dalam keadaan segar. Ketika memilih ikan, ingatan saya melayang ke Jimbaran.  Namun pilihan di Jimbaran tentunya lebih terbatas dan suasananya jga berbeda tidak bisa dibandingkan.  Setelah makan kenyang dengan harga yang masuk akal (berdua kita hanya membayar 198 ribu rupiah) kita melanjutkan perjalanan ke Dufan.  Tiket masuk ke dufan adalah 120 ribu per orang.  Dengan membeli tiket tersebut kita bisa menikmati kurang lebih 25 permainan/ atraksi disana.  Saya sendiri hanya mencoba kurang lebih 6 permainan.  Saya naik roda putar besar, kora-kora, rumah boneka, gajah dan kuda terbang, dan lain-lain.  Saya tidak memiliki cukup keberanian untuk mencoba Tornado atau Histeria.

Jika saya teman saya lebih berani dari saya, mungkin saya akan mencobanya.  Tetapi ternyata dia lebih takut lagi.  Kita menghabiskan waktu dan bercerita banyak hal.  Dia terlihat lebih serius dan dewasa.  Bukan seperti sosok yang dulu yang lebih muda, riang dan ceria. Dulu, susah sekali berbicara serius dengannya.  Mata dia juga tidak henti-hentinya jelalatan melihat cowok ganteng yang lewat sehingga setiap pembicaraan terpotong dengan seruan riangnya mengomentari wajah-wajah menarik yang lewat.  Dia berujar kalau orang berubah.  Waktu bisa merubah segalanya.

Saya senang bisa menghabiskan waktu bersamanya.  Meski rencana makan malam kita harus batal karena dia kelelahan dan harus kembali ke penginapannya.  Padahal saya hendak memperkenalkan dia ke teman-teman saya yang lain. Saya akan bangga memperkenalkan seorang teman terbaik seperti dia.  Mungkin lain kali, semoga masih ada waktu ke depan.  Dear my Friend, I wish you all the best.  Semoga semua harapan dan cita-cita-mu tercapai.

Untuk Dufan sendiri, cukup menghibur.  Tidak pernah ada kata tua untuk main ke Dufan.  Namun saya merasa kalau Dufan tidak ramah untuk orang-orang berpendapatan  rendah.  Coba bayangkan jika satu keluarga memiliki dua atau tiga orang anak.  Berapa uang yang harus mereka keluarkan, belum jika makanan dan hiburan lainnya.  Saya berharap suatu saat nanti ada hiburan yang lebih terjangkau oleh masyarakat umum.  Mungkinkah tempat hiburan seperti Dufan suatu saat dibangunkan oleh negara untuk warganya dimana semua orang bisa menikmati fasilitas dengan harga terjangkau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s