Earth Song: Ketika Bumi Menangis

Ketika dunia menangisi kematian Michael Jackson saya merasa biasa saja.  Lagu Michael diputar dimana-mana baik ketika ke mall, ketika ke bandara, restaurant, dan lain-lain.  Televisi, radio, semunya mengenang dan menangisi kepergian Michael Jackson.  Salah seorang teman saya selama kurang lebih dua minggu selalu memutar lagu Michael Jackson di facebook-nya.  Saya merasa kehilangan namun tidak merasa sedih.  Michael Jackson adalah sosok yang istimewa terlepas dari kontroversi-nya.  Saya paling suka mendengarkan lagu “we are the world” yang dinyanyikan oleh Michael Jackson yang sering diputar untuk menggalang dana pemberantasan kelaparan di Afrika.  Atau mungkin bagi anda yang pernah menonton film “Free Willy” tentunya juga familiar dengan lagu “Will you be there”.

Ditengah banyak ketidakpedulian terhadap sesama dan keberlanjutan bumi, Michael Jackson muncul menjadi sosok yang berbeda.  Dia memiliki perasaan yang sensitif.  Perasaan yang menjadikan dia seorang pemusik dan penyanyi yang hebat. Seorang yang sukses namun tidak lupa dengan penderitaan orang lain.  Simaklah lagu-lagunya.  Betapa besar makna dan kekuatan yang terkandung di dalamnya.

Ketika saya menyusuri hutan di Jambi, saya mendengarkan lagu Earth Song dari mobil rental. Rasanya sangat pilu.  Dengan mata kepala saya sendiri saya turut menyaksikan kerusakan yang disenandungkan oleh Michael Jackson.  Jika hewan, pohon, dan semua makhluk hidup yang hidup didalamnya bisa berbicara maka mereka akan menjerit-jerit meminta agar jangan rusak habitat mereka. Pernahkah terfikir oleh anda kalau kayu yang menjadi penyangga rumah anda dibuat dari kayu yang ditebang dari hutan yang kemudian merusak habitat hutan beserta manusia dan hewan yang tinggal di dalamnya.

What about sunrise

What about rain

What about all the things

That you said we were to gain…

What about killing fields

Is there a time

What about all the things

That you said was yours and mine…

Did you ever stop to notice

All the blood we’ve shed before

Did you ever stop to notice

This crying Earth these weeping shores?

Pernahkah anda memperhatikan kalau bumi yang kita cintai ini bersedih dan menangis? Bagi anda yang hobi jalan-jalan mungkin merasakan bagaimana cuaca yang tidak bisa diprediksi dapat merusak acara ajalan-jalan kita.  Atau lihatlah bencana Tsunami di Mentawai dan Letusan gunung merapi di Jawa Tengah.  Mungkinkah itu terjadi tanpa penyebab? Pernahkah kita berfikir akan hal yang pernah kita lakukan yang merusak bumi ini? Apakah kita peduli?

What have we done to the world

Look what we’ve done

What about all the peace

That you pledge your only son…

What about flowering fields

Is there a time

What about all the dreams

That you said was yours and mine…

Did you ever stop to notice

All the children dead from war

Did you ever stop to notice

This crying Earth these weeping shores

Saya yakin kalau jeritan Michael Jackson di lagu Earth Song tersebut juga menjadi jeritan semua orang di bumi ini. Terutama untuk orang-orang miskin yang sering terkena dampak langsung dari bencana. Bagi orang kaya, jika terjadi banjir, mereka bisa menginap di rumah yang lain, atau ada asuransi yang akan memberikan ganti rugi. Namun bagaimana dengan anda yang hanya bisa hidup untuk hari ini dan tidak tahu berbuat apa jika apa yang anda punya tersebut direnggut bencana?

Bayangkan bagaimana penduduk asli yang tinggal di tengah hutan harus menanggung akibatnya. Sadarkah anda kalau penduduk asli tersebut memiliki hak yang sama dengan anda?  Masih banyak penduduk asli yang memilih untuk tinggal di hutan-hutan di Amerika Latin, Kalimantan, Afrika, dan banyak lagi.  Mereka selama ini hidup damai dengan alam sekarang sudah terancam.  Mereka dipaksa keluar dari hutan dan dianggap sebagai manusia primitif yang belum mengenal peradapan.  Manusia lain yang merasa kalau mereka lebih baik merasa perlu untuk ‘mendidik’ suku asli ini dan memaksa mereka untuk memeluk salah satu agama, mengenal uang, dan banyak lainnya.

Driver mobil rental yang mengantarkan saya melintasi provinsi Jambi bercerita kalau dia kasihan dengan suku anak dalam. Mereka tidak memakai baju, anak-nya banyak, untuk laki-laki mereka bisa memiliki banyak istri, jika mereka sudah tidak tinggal di dalam hutan mereka suka meminta-minta, banyak lagi komentar driver tersebut mengenai suku anak dalam.  Dia juga bercerita kalau suku anak dalam juga sering ditipu.  Saya menangkap ada kesan kasihan disuaranya ketika bercerita, namun bukan kasihan yang berarti simpati melainkan kasihan yang berarti saya tidak peduli.

Ada yang bilang kalau suku anak dalam di Jambi sudah tinggal di hutan belantara Jambi dari abad 17.  Ada yang bilang kalau mereka adalah prajurit dari istana pagaruyung atau banyak versi cerita lainnya. Saya belum pernah mengobrol langsung dengan suku anak dalam jadi saya tidak mengetahui cerita lain dari versi mereka.

Ingat butet manurung? Pahlawan tanpa tanda jahasa tersebut telah mengabdikan hidupnya untuk memberikan pendidikan kepada suku anak dalam dengan harapan mereka menjadi pintar dan tidak ditipu oleh orang-orang yang tinggal di luar hutan.  Pemerintah jambi menganggap kalau populasi suku anak dalam di daerah-nya hanya akan menjadikan jambi sebagai provinsi yang primitif dan terbelakang.  Image yang ingin dirubah.  Pada umunya orang menginginkan agar suku anak rimba dan beberapa suku asli lainnya di Indonesia mengenal peradapan modern dan pendidikan.  Tetapi benarkah kita jauh lebih beradap dari mereka?

Menyusuri daerah tertinggal membuat kita berfikir akan masa lalu.  Seakan waktu mundur ke belakang.  Ketika saya mengunjungi salah satu daerah terpencil di Papua Barat saya merasa kalau saya kembali ke dua puluh tahun yang lampau.  Ketika dunia belum semaju seperti yang kita rasakan sekarang.  Ketika orang-orang mandi masih di sungai serta masih belum ada listrik dan televisi. Menyedihkan untuk beberapa masyarakat zaman sekarang, namun terasa damai bagi orang-orang yang mencintai keindahan alam. Orang-orang yang menghargai hutan dan tersenyum senang ketika bisa mandi di sungai yang airnya masih jernih.

Ketika semua orang bermimpi untuk hidup dan tinggal di negara maju saya malah memiliki yang berbeda.  Saya bermimpi untuk kembali ke masa lalu, dan membangun peradapan dimana hasilnya berharap bisa lebih baik dari apa yang kita rasakan pada zaman sekarang.  Namun pertanyaannya bagaimana? Apa yang membuat kita merasa lebih baik dari pendahulu kita.  Pahlawan yang mati memperjuangkan negri ini mungkin tidak pernah membayangkan kalau Indonesia akan menjadi seperti saat ini.

Foto: koleksi pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s