Ganteng Luar dan Dalam

“Step Up” sebagian orang mungkin sudah familiar dengan film tersebut, namun saya belum.  Minggu kemarin, ketika saya di Bali dalam perjalanan ke Hotel saya mendapat sms dari seorang teman baik yang bertugas di daerah timur Indonesia.  Dia akan pulang ke Jakarta dan mengajak saya menonton film Step up 3 D.  Saya tidak tahu film tersebut, namun karena kita sudah lama tidak bertemu dan saya punya banyak cerita yang hendak dibagi dengannya maka saya langsung setuju dengan tawaran tersebut.

Ternyata keputusan saya adalah keputusan yang tepat.  Meski lelah, karena harus bangun pagi untuk mengejar pesawat.  Dan penerbangan juga lebih lama dari biasanya karena pesawat harus mengambil jalur lain untuk menghindari kemungkinan awan panas atau bahaya gunung merapi. Saya juga harus menghadiri konferensi yang baru selesai jam 6 sore.  Setelah itu saya segera bergegas menuju lokasi yang sudah kita sepakati, tetapi karena jam pulang kantor, saya harus bersabar dengan kemacetan Jakarta.  Untungnya saya tidak terlambat, dan meski hanya sebentar, sungguh menyenangkan bisa bertukar fikiran dengan dua orang sahabat baik tersebut.

Balik lagi ke film Step Up, yang menarik dari film tersebut tentu saja wajah ganteng dan badan seksi tokoh Luke.  Luke benar-benar ganteng.  Poin dia adalah 9 dari nilai tertinggi sepuluh.  Dan yang lebih membuat dia makin ganteng dan seksi karena kepedulian sosialnya yang tinggi yang memberikan tempat tinggal dan semangat hidup bagi beberapa anak berbakat yang dia temui.

Berbicara mengenai Luke, ketika saya di Bali saya menyempatkan bertemu dengan seorang teman lama, saya akan bilang secara hati dia mirip dengan Luke.  Kita dulu pernah berteman.  Saya menganggap kalau pertemanan kita cukup berarti dan layak untuk dipertahankan.  Namun entah kenapa semenjak kepindahan dia ke Bali kita tidak pernah lagi berhubungan.   Dia tidak ganteng, dan menurut saya tidak terlalu menarik.  Namun dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang yang tidak beruntung.  Kadang dia suka berfikiran negatif akan banyak hal disekelilingnya. Dia tidak sabaran dan sering mengeluhkan banyak hal. Namun saya sangat yakin kalau hatinya baik.  Entah kenapa saya yakin itu. Dia pria yang baik. Dan itulah yang membuat saya berusaha mendapatkan pertemanan itu kembali.

Bagi banyak orang teman saya tersebut lucu dan humoris namun bagi saya dia terlihat menyimpan banyak duka dan kekecewaan.  Ketika dulu kita berteman dia bercerita banyak hal kepada saya.  Dia bukan tipikal orang yang suka bercerita mengenai dirinya.  Tetapi entah kenapa dia mempercayai saya.  Dia suka bercerita mengenai keluarganya, neneknya, nyokapnya, kakaknya, dan juga tentang hubungannya percintaannya yang tidak berhasil. Iya, dia pernah patah hati dan hingga saat ini dia masih sendiri.

Sebenarnya bukan karakter saya untuk mengambil inisiatif.  Biasanya saya selalu menunggu.  Dan dalam hidup saya tidak akan pernah meminta dua kali.  Tetapi kakak saya mengingatkan kalau kadang kita juga harus menjadi proaktif.  Kita harus berjuang untuk sesuatu yang layak kita pertahankan.  Balik lagi ke teman yang tinggal di Bali tersebut, apakah dia layak dipertahankan? Dia tidak membalas email dan juga tidak membalas sms.  Padahal dulu dia tidak pernah begitu.  Dia yang malah justru yang sering sms dan mengajak bertemu.

Gengsi dan harga diri awalnya menahan saya untuk menelfon dia, namun saya ingat kembali bahwa dia adalah sosok yang istimewa.  Dia memiliki hati sebaik Luke, dan hal tersebut membuat dia layak dipertahankan.  Dan benar kalau bisa kita jangan berfikiran negatif dan berburuk sangka.  Dia bilang, dia tidak membalas sms karena dia lagi sibuk pindahan rumah.  Ketika saya telfon dia langsung mengangkat dan menyambut ramah.  Kita bertemu, dan meski sekarang dia menjadi pebisnis yang sukses dia masih seperti yang dulu.  Dia masih peduli dengan banyak orang disekelilingnya.  Dia bilang kalau dia membayar gaji stafnya 50% lebih tinggi dari pada perusahaan lain.  Dia juga suka mengajak staf-nya liburan dan makan bareng.   Seperti ketika saya bertemu dengannya, dua orang staf-nya ikut serta.  Dan dia juga berusaha melibatkan stafnya di dalam pembicaraan kita.  Dia bilang kalau stafnya tadi membantu dia pindahan makanya dia juga harus mengajak dua staf-nya makan, dan hal tersebut sudah dia jelaskan dari awal.

Ternyata dia masih seperti yang dulu.  Tidak ada yang berubah.  Hal yang menarik dari diskusi kita adalah ketika dia berkata bahwa harga yang dia tawarkan ke mitra bisnisnya lebih tinggi dari harga yang ditawarkan oleh perusahaan yang lain.  Karena dia menjelaskan kalau perusahaannya memberikan upah yang adil bagi karyawan dan juga dia melakukan pekerjaan dengan kecintaan dan ketekunan maka klien atau mitra bisnisnya juga tidak keberatan membayar lebih.  Saya dapat melihat kedekatan antara dirinya dengan bawahannya.  Terlihat kalau staff-nya senang bekerja dengannya.   Dengan cinta seberat apapun pekerjaan kita maka kita akan selalu semangat dan memberikan yang terbaik.  Dan dengan memberikan lebih untuk orang lain, kita juga akan mendapatkan lebih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s