Jakarta Lumpuh: Kemacetan semakin parah

Meskipun bekerja di Jakarta, namun saya lebih sering melakukan perjalanan di luar kota dari pada di dalam kota. Sehingga saya jarang merasakan macet.  Namun beberapa hari terakhir saya harus ikut merasakan penderitaan warga Jakarta lainnya. Minggu-minggu ini saya harus menghadiri acara diluar kantor dan untuk sampai ke lokasi Acara saya harus berkendaraan sekitar hampir satu Jam. Alokasi waktu yang sama jika anda berangkat ke Bogor dari Jakarta di pagi hari.

Tidak ada yang tidak mengeluhkan situasi kemacetan Jakarta. Bahkan lebih parah lagi, tingkat kepadatan lalu lintas tidak bisa lagi diprediksi seperti beberapa tahun yang lalu.  Sehingga kapanpun kita akan terjebak di dalam kemacetan.  Bertambahnya populasi warga Jakarta, bertambahnya populasi mobil, dan juga populasi motor adalah alasan kenapa kemacetan menjadi makin parah.  Pertambahan kendaraan tidak diiringi dengan pertambahan jalan dan perbaikan infrastruktur yang memadai.

Atau bagi saya lebih tepatnya adalah pembangunan yang tidak rata. Pembangunan yang hanya terkonsentrasi di daerah Ibu Kota.  Banyak orang yang meninggalkan kampung halamannya untuk menimba ilmu di universitas terbaik di Indonesia, dan hanya sedikit yang kembali ke kampung halaman karena minimnya ketersediaan lapangan kerja.  Sedangkan dengan ilmu dan juga daya saing yang mereka miliki mereka mampu untuk bekerja di Ibu kota dengan bayaran yang signifikan.  Jika mereka balik ke kampung halaman secara umum pekerjaan yang mungkin adalah menjadi pegawai negri dimana sistem rekruitmen kadang masih tidak adil.  KKN yang masih berlaku dibeberapa tempat.  Selain dari pekerjaan menjadi pegawai pemerintah hampir tidak ada lagi lapangan pekerjaan yang tersedia kecuali mereka mau menciptakannya.  Namun menciptakan lapangan kerja juga bukan hal mudah karena terkait dengan modal dan juga peraturan pemerintah yang jelas.  Masih bisa kita dengar bahwa pengurusan izin usaha tidak semudah yang seharusnya, jika anda mengerti maksud saya.

Ingat beberapa waktu yang lalu dalam sebuah tulisan teman saya berujar “who are you without the label” percaya atau tidak di dalam perekrutan tenaga kerja atau didalam dunia kerja itu sendiri, siapa kita, anak siapa, apa yang kita punya menjadi sangat penting.  Misal, ketika kita anak pengusaha terkenal maka secara otomatis orang menghormati anda dan banyak pintu dan kesempatan terbuka bagi anda.  Demikian jika anda anak pejabat atau anak orang kaya. Banyak kemudahan datang silih berganti.  Namun jika situasi sebaliknya, jika anda hanya berdiri dengan dua kaki anda tanpa ada dukungan nama-nama orang besar di belakang anda maka anda bukan siapa-siapa. Jika anda ingin bersaing maka anda perlu energi 10 kali lipat dari orang-orang yang memiliki koneksi dan priviledge itu tadi.

Balik lagi ke kemacetan.  Kemacetan bisa dikurangi jika populasi yang padat di Jakarta ini didistribusikan ke daerah lainnya.  Investasi ke provinsi lain haruslah ditingkatkan.  Dan mental serta jiwa kewirausahaan juga mulai harus ditumbuhkan. Dengan terciptanya lapangan pekerjaan di daerah maka pilihan orang untuk bekerja di daerah lain selain ibu kota akan bertambah.  Percaya atau tidak banyak juga penduduk Jakarta sekarang yang sudah bosan dengan kehidupan yang mereka jalani disini.  Beberapa kenalan saya bermaksud pindah ke kampung halamannya di Jogja, namun dengan bencana gunung berapi ini mungkin keinginan itu tertunda.  Satu lagi terlepas dari peluang yang terkonsentrasi di Jakarta, terkait dengan keamanan, Jakarta juga merupakan salah satu daerah yang potensi bencananya tidak sebanyak daerah lain seperti Aceh, Sumatra Barat, atau Jogjakarta dan Jawa Tengah itu tadi.  Masih banyak yang harus kita fikirkan terkait dengan negri kita tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s