Kembali ke Masa Lampau

Pernahkah anda berkunjung ke suatu daerah dan terasa kalau waktu berputar mundur.  Anda merasakan kalau anda seakan kembali ke masa silam, lima atau mungkin sepuluh tahun yang lalu.  Kadang saya merasakan hal tersebut. Perasaan tersebut hanya tiba-tiba muncul.  Misal, ketika saya melakukan perjalanan ke Jambi sekitar satu bulan yang lalu.  Ketika melintasi jalan raya antar kabupaten dan melihat rumah-rumah asli penduduk yang berjejer di sepanjang sungai saya seakan kembali ke masa silam.  Saya yakin kalau sepuluh atau dua puluh tahun mendatang ketika ekonomi masyarakat sudah baik, ketika Jambi sudah sukses membangun dan berkembang menjadi kota modern maka rumah-rumah asli tersebut akan hilang, diruntuhkan untuk digantikan dengan rumah batu, atau rumah masa sekarang.  Hal tersebut adalah hal biasa yang umum terjadi.

Ketika saya jalan-jalan ke tapak tuan di tahun 2008, supir mobil rental yang saya tumpangi menjelaskan ketika tahun 1998 dia kesana rumah-rumah penduduk masih rumah-rumah kayu peninggalan zaman dahulu.   Dia sempat bingung ketika ruko-ruko lama sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan ruko permanen bangunan modern.  Dia merasa kalau ciri khas kota tapak tuan yang dulu sudah hilang.  Sekarang kota tersebut tidak ada beda-nya dengan kota-kota lain di Indonesia.  Padahal kota tersebut sungguh indah dengan sejarah yang menarik.  Namun peradapan modern sudah menyulapnya menjadi bangunan seragam yang bisa ditemui dimana saja.

Perasaan balik ke masa lampau juga saya alami ketika saya mandi di kamar mandi warga yang hanya terbuat dari 4 tiang, di balut plastik dan pintu dari seng yang bisa ditarik atau tepatnya disandarkan.  Atapnya adalah langit dan ketika hujan maka kepala saya juga basah.  Untuk mencapai kamar mandi saya juga harus berjalan sekitar 4-6 meter dari rumah.  Sebenarnya tempat tersebut tidak bisa disebut kamar mandi karena hanya ada sumur, beberapa helai papan tua untuk pijakan demi menghindari becek ketika hujan.  Tidak ada WC, untuk ke WC anda harus berjalan lagi ke sebuah kotak berukuran 2 M2.  Anda duduk disana sambil berharap tidak ada orang yang lewat karena tinggi kotak tersebut juga tidak lebih dari satu meter, lagi-lagi juga beratapkan langit.

Atau saya merasa balik ke masa lalu, sekitar dua puluh tahun ke belakang ketika saya menginap disebuah perkampungan di daerah Papua Barat.  Saya dan beberapa orang teman menginap dirumah kayu yang sudah ditinggalkan penghuni-nya, namun rumah tersebut masih terawat dengan baik. Modelnya seperti rumah panggung, dimana dapur menyatu dengan rumah utama.  Sehingga ketika kita memasak (dengan kayu bakar), orang-orang yang tinggal dirumah akan terbatuk-batuk karena asap.  Aroma asap di baju juga adalah hal yang otomatis dan menjadi parfum gratis.

Hal yang menarik ketika menginap di rumah ini adalah ketika saya harus buang air kecil dan waktu menunjukan pukul 9 malam, saya harus ke belakang ruamh, yang berupa semak dan membawa secangkir air untuk pipis.  Saya duduk jongkok sambil memandang bulan sabit tinggi di langit.  Seluruh penduduk di kampung kecil tersebut sudah terlelap pulas.  Di dalam kepercayaan mereka kalau sudah malam jangan pernah keluar rumah, karena ada orang-orang sakti dari suku asli yang bisa menghilang, datang dan pergi dengan kecepatan tinggi dan tega membunuh.  Agak merinding memang.  Duduk sendirian, ditengah bukit dan hutan belantara, takut-takut kalau ada ular atau salah seorang dari suku tersebut datang.  Bersyukurlah anda yang bisa buang air kecil dengan tenang.

Ketika malam hari cuaca berubah menjadi sangat dingin.  Saya yang kebetulan tidur dengan sleeping bag harus terbangun dan berganti posisi meringkuk berkali-kali namun gigi bergemerutuk kedinginan dan tidak bisa tidur.  Masyarakat di kampung tersebut selama ini terisolir.  Akses jalan dari kota ke kampung tersebut baru dibuka satu-dua tahun belakangan.  Itupun dengan jalanan tanah seadanya yang jika musim hujan akan sulit dilewati.  Dari ibukota provinsi dibutuhkan kurang lebih tiga jam untuk mencapai kampung tersebut.  Ibarat ninja hatori anda akan melewati bukit, turuni lembah.  Mobil anda akan melintasi sungai lebih dari 5, yang lagi-lagi ketika hujan kemungkinan airnya besar sehingga tidak bisa dilewati.  Listrik belum ada di kampung tersebut, dan tentu saja tidak ada TV.  Sinyal HP dikampung tersebut juga tidak ada.     Tetapi percaya atau tidak, hidup di situasi seperti ini juga menyenangkan.  Ketika hidup bukan hanya sekedar berlari-lari mengejar bus kota supaya tidak terlambat ke tempat kerja atau ketika harus membayar tagihan bulanan, menerima telfon dari customer yang cerewet, menghadapi kemacetan Jakarta dan hiruk pikuk kota besar dengan wajah-wajah tegang penduduk-nya.

Kemajuan memang membawa banyak kemudahan.  Tetapi perlu diingat kalau kemudahan tersebut adalah demi terwujudnya kebahagian.  Apagunanya rumah dengan fasilitas lengkap dan segala kemudahannya jika yang tinggal di dalam-nya tidak bahagia.  Apagunanya memiliki ini dan itu namun tidak bisa menikmatinya.  Kemudahan tidak murah, anda harus membayarnya dengan bekerja keras.  Tanpa anda sadari anda ‘menjual diri’ anda terhadap segala kemudahan yang ingin anda dapatkan.  Anda tidak lagi memiliki diri anda, diri anda adalah milik kantor yang menggaji anda.  Anda memiliki TV LCD bagus dan lebar namun tidak memiliki waktu untuk duduk bersantai menonton film dari TV kabel yang anda bayar setiap bulannnya.

Kadang hidup berjalan sangat cepat.  Tetapi percayalah ada saatnya anda membutuhkan untuk kembali ke masa lalu. Karena anda tidak memiliki kantong ajaib doraemon maka yang bisa anda andalkan adalah membeli tiket pesawat dan terbang dengan si burung besi ke daerah yang terpencil yang tidak pernah anda bayangkan.  Anda akan kaget, terlepas dari beratnya hidup yang mereka hadapi namun mereka lebih berbahagia dari pada banyak orang yang hidup dengan kemudahan kota besar.  Anda juga akan terkagum ketika menemukan sungai jernih dan segar, dimana orang mandi dan menyatu dengan alam.  Yakinlah bahwa anda akan tetap bisa hidup tanpa laptop dan HP anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s