Pay it Forward

Bagaimana jika seseorang datang kepada anda dan membantu anda menyelesaikan masalah atau beban yang sedang anda pikul. Dan bantuan tersebut tanpa syarat, tanpa pamrih, tulus dari hati yang terdalam. Hal yang harus anda lakukan untuk membalasnya cukup dengna menyebarkan kebaikan dan membantu tiga orang lainnya yang sedang membutuhkan pertolongan. Bantuan yang anda berikan juga sebatas dengan kemampuan anda, dan tersebut juga harus berasal dari ketulusan anda. Pay it Forward.

Pay it Forward, adalah judul film yang harus anda tonton jika anda ingin tahu lebih banyak tentang konsep tanpa pamrih seperti cuplikan diatas. Saya menonton film ini sekitar 6 tahun yang lalu, dan saya tidak kuasa menahan tangis ketika akhirnya tokoh utama di dalam film tersebut, yang menyebarkan ide ‘pay it forward’, meninggal. Namun ide tentang kebaikan tersebut sudah menyebar dan sudah menjadi sebuah gerakan, membantu banyak orang dan membuat dunia menjadi lebih baik. Beberapa review mengenai film tersebut mengatakan kalau ide, membalas kebaikan ke tiga orang selanjutnya tidaklah realistik. Bagaimana jika seseorang melakukan lebih dari tiga kejahatan dan perbuatan buruk yang merugikan banyak orang dan bisakah tersebut tergantikan hanya dengan tiga kebaikan tersebut?

Saya sendiri menyukai film ini. Film yang sederhana namun menyentuh hati dan jiwa. Di Zaman saat ini orang hidup tidak lagi menggunakan hati, namun hanya logika semata. Bahkan yang paling buruk, logika juga tidak digunakan, dan hidup hanya dengan berpedoman kepada aturan tanpa pernah mengerti dasar dari penetapan aturan tersebut. Dan ketika seseorang datang ‘membeli’ aturan tersebut, dikarenakan tidak mengerti tadi, banyak yang bersedia menjualnya. Hal ini tentu saja merugikan rakyat dan orang-orang yang tidak bisa membeli peraturan tersebut. Saya memiliki seorang teman di Bali yang keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan milik warga asing setelah mengabdi lebih kurang 10 tahun dengan jabatan sebagai manager. Sepuluh tahun pengalaman tersebut membuat ia cukup percaya diri untuk dapat menjalankan usaha yang sama bahkan mungkin lebih baik. Dia akan memberikan gaji lebih layak untuk staf-nya dan juga akan membeli produk dengan harga yang lebih baik dari produsen kecil disana. Diapun mulai mengurus izin perusahaan, dan hal lain terkait. Namun ternyata semua tidak semudah yang dia bayangkan. Akhirnya mimpi untuk memiliki perusahaan dengan misi-misi sosial seperti yang dia dambakan akhirnya pupus. Niat baik saja di zaman sekarang tidak cukup, anda harus punya lebih dari itu, benarkah?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s