Prejudice and Stereotype

Prejudice is most commonly used to refer to a preconceived judgment toward a people or a person because of race, social class, gender, age, disability, political beliefs, and sexual orientation.

Sedangkan definisi dari stereotype adalah commonly held popular belief about specific social groups or types of individuals. Stereotypes are standardized and simplified conceptions of groups based on some prior assumptions.

Beda Prejudice dan stereotype bagi beberapa orang cukup membingungkan.  Sering dua kata tersebut digunakan untuk menjelaskan maksud yang sama namun sebenarnya mereka berbeda. Steoreotype memiliki akurasi dan kebenaran lebih tinggi dari Prejudice.  Steoreotype juga lebih bermakna positif dari pada prejudice. Misal, orang Cina adalah pekerja keras.  Itu bisa dibilang contoh stereotype.  Contoh prejudice adalah lelaki berjenggot dan bersorban adalah konservatif dan mungkin seorang teroris.

Dua contoh yang saya gunakan diatas bisa jadi kurang tepat untuk membedakan antara prejudice dan stereotype.  Silahkan anda memberikan contoh sendiri.  Yang menjadi bottom line adalah kalau steoreotype merupakan asumsi atau persepsi mengenai sekelompok orang yang lebih berdasar dari pada prejudice.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan prejudice. Sering kita men-judge orang berdasarkan dari ras, warna kulit, suku, jenis kelamin, cara berpakaian, dan lain-lain tanpa pernah benar-benar memberikan kesempatan untuk mengenal mereka lebih dekat.  Misal, jika kita bertemu dengan seorang laki-laki yang berambut panjang, dengan tas ransel besar, sepatu gunung, baju kaos, jaket, dan mengenakan celana dengan banyak saku, kita langsung berkesimpulan kalau dia pasti seorang pecinta alam dan gemar berpetualang.  Lelaki tersebut mendambakan kebebasan dan fleksibilitas dan memiliki keterikatan yang kuat dengan alam.  Bagi orang seperti itu, pencapaian materi seperti memiliki rumah dan mobil mewah, menjadi manager bank, bukanlah tujuan hidupnya. Tanpa mengobrol dengan dirinya kita sudah memiliki gambaran dan karakter orang tersebut.  Itulah yang disebut dengan prejudice.

Jika mendengar kata ‘orang Arab’, India, Amerika, anda pasti sudah memiliki gambaran tersendiri dikepala Anda.  Misal, mengenai orang India, cerewet, ribet, dan jika nawar suka tega. Sedangkan persepsi tentang orang orang Arab adalah pelit, tidak percayaan sama orang. Orang Amerika: arogan, sombong dan blak-blakan.  Sedangkan orang Belanda, yang paling sering kita dengar adalah Belanda pelit.  Makanya ada istilah Going Dutch (bayar sendiri-sendiri).

Media, agama, lingkungan, adat dan budaya mempengaruhi persepsi kita terhadap bagaimana kita melihat orang lain.  Dan sering ‘prejudice’ menjadi perangkap sehingga kita tidak memberikan kesempatan terhadap diri kita untuk mengenal orang lain. Bahkan tak jarang prejudice menjadi awal dari permusuhan dan konflik.

Oleh karena itu jangan pernah memberikan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan suku, agama, warna kulit atau penampilan. Luangkanlah waktu untuk mengenal dan mengobrol dengan orang-orang diluar suku atau kelompok anda.  Ketahuilah semakin banyak perbedaan di dunia ini semakin besar juga persamaan.  Namun kita baru bisa melihat persamaan itu jika kita membebaskan diri kita dari prasangka.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya tinggal disuatu daerah terpencil di Indonesia, saya tinggal di sebuah rumah Ibu Tua.  Rumahnya bagus, dia tinggal dengan satu orang anak laki-lakinya yang sudah dewasa.  Si Ibu Tua mengatakan, kenapa Indonesia banyak menerima bantuan dari Amerika, padahal Amerika kan isinya orang kafir dan orang jahat.  Dan ketika dia bertanya mengenai hal tersebut, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dan berinteraksi dengan orang Amerika.  Saya bertanya ‘dari mana Ibu tahu kalau mereka jahat, apakah ibu pernah bertemu dengan mereka? Dia bilang belum, bahkan dia juga tidak tahu dimana Amerika berada.  Dia memiliki persepsi mengenai Amerika dikarenakan informasi dari seorang tokoh agama yang dia dengar di pengajian sehabis sholat maghrib di mesjid. Tokoh agama tersebut menjelaskan kalau Amerika jahat dan membunuh orang Islam di Irak dan di Afghanistan. Saya hanya tersenyum menanggapi penjelasan si Ibu tersebut.

Setelah beberapa bulan berlalu, dia kembali bercerita kalau anak dari seorang temannya menikah dengan orang Amerika.  Dan dia baru saja pulang dari rumah temannya dan bertemu dengan orang Amerika tersebut, orang itu bisa bicara bahasa Indonesia. Dan yang membuat si Ibu kagum adalah ketika orang Amerika tersebut bisa mengucapkan Assalamualaikum, dan mencium tangan si Ibu ketika mereka berkenalan.  Pandangan Ibu tentang orang Amerika langsung berubah.  Jika si Ibu tidak pernah bertemu langsung dengan orang Amerika tersebut mungkin sampai sekarang dia masih hidup dengan prejudice yang dia miliki tentang orang Amerika.

Teman saya orang Sumatra, menganggap kalau orang Jawa itu jahat.  Dan hal ini merupakan nilai yang ditanamkan oleh keluarganya dan lingkungan di sekitar.  Hati-hati berteman dengan orang jawa, mereka bisa ‘menggunting di dalam lipatan’. Teman saya tersebut lahir dan dibesarkan di kota yang sama tanpa pernah beranjak sedikitpun. Setengah abad dia hidup disana, dan prejudice terhadap suku jawa melekat erat di kepalanya.  Hingga beberapa tahun yang lalu, dia harus pindah kerja ke luar kota, dan kebetulan dia tinggal di rumah orang Jawa.  Lingkungan tempat dia tinggal didominasi oleh suku jawa.  Diapun mulai berinteraksi dengan pemilik rumah dan kemudian tetangga.  Tak lama kemudian, didalam sebuah pembicaraan ringan, ketika saya bertemu dengannya dia bercerita bagaimana baiknya keluarga jawa tempat dia tinggal, tetangga-tetangga jawa-nya juga baik. Dia langsung mengkoreksi nilai yang ditanamkan ke dia sewaktu kecil dulu.  Orangtuanya pasti salah, dan persepsi dia berubah.

Cara untuk membuat dunia lebih baik adalah membersihkan kepala dan pemikiran anda dari prejudice.  Nilailah orang karena ‘pribadi’-nya bukan karena suku, agama-nya, keluarga, dan hartanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s