Jika pendapat anda belum didengar

Sebagai makhluk sosial kita akan selalu bersosialisasi dan di dalam bekerjapun kita tidak akan pernah sendiri. Sering pekerjaan kita mengharuskan kita berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain.  Jika di satu divisi atau departemen lebih dari satu orang, sering anda juga akan bekerjasama dalam mencapai target tahunan atau menyelesaikan pekerjaan rutin.

Jika didalam kehidupan pribadi, pandangan hidup seseorang dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil dan juga lingkungan dimana dia dibesarkan maka di dalam pekerjaan orang juga akan dipengaruhi oleh pengalaman-nya.  Latar belakang pendidikan, tipe pekerjaan, gaya organisasi atau perusahaan dimasa lalu akan membuat kita menjadi individu yang berbeda.  Itulah sebabnya kadang kita berselisih faham dengan rekan kerja atau atasan.  Kita berharap mereka memahami alasan kita serta menghargai pekerjaan atau keputusan yang kita buat.  Keputusan yang didasarkan oleh pengalaman kerja kita sebelumnya.  Namun bisa jadi bos atau rekan kerja kita memiliki pegalaman yang berbeda dengan kita, yang menurut kita sukses namun berdasarkan pengalaman mereka ide tersebut tidak sukses.

Jika anda berada diposisi bos atau staf senior yang bisa membuat keputusan, maka perbedaan pendapat atau ide bukanlah masalah bagi anda.  Malah justru sebaliknya secara tak sadar, anda mengarahkan staf junior atau bawahan anda untuk berfikir dengan cara anda, dan melihat dengan kaca mata yang sama.  Tetapi bagi staf yang berada dibawah, yang tidak bisa membuat keputusan hal ini kadang menggangu kreativitas dan juga pengembangan kapasitas anda.

Di departemen saya, saya bekerja dengan seorang staf senior dimana dari segi umur memang dia jauh lebih senior dari saya.  Dengan usia yang lebih dewasa tentu saja dia memiliki pengalaman yang lebih banyak.  Saya sendiri, di pekerjaan sebelumnya berada diposisi dimana saya memiliki wewenang untuk membuat keputusan dan membuat perencanaan.  Saya memiliki cukup kebebasan dalam mengembangkan ide dan pemikiran yang saya rasa benar.  Dan menurut saya capaian saya cukup maksimala pada waktu itu.  Namun di dalam pekerjaan sekarang kondisinya berbeda. Tidak lebih saya hanya bagaikan seorang pesuruh.  Saya bisa melemparkan ide namun bukan berarti saya dapat menjalankan ide tersebut.  Atau sebaliknya, saya tidak suka dengan suatu ide atau rencana kerja, namun tidak bisa menolak karena staf senior telah setuju dan akan menjalankan ide tersebut.

Apa yang anda rasakan jika anda pergi menghadiri meeting, bertemu dengan klien, atau fihak lain diluar perusahaan atau organisasi anda, dan anda diminta berpendapat yang berimplikasi dengan kebijakan perusahaan anda dan juga mungkin akan terkait dengan anggaran.  Anda memberikan masukan karena anda memang memiliki analisis yang kuat untuk itu. Namun kemudian anda mendapatkan orang yang bertanya tersebut berbicara lagi engan staf senior yang memberikan masukan yang berbeda dan anda tahu kalau yang akan didengar tentu saja pendapat staf senior.  Pendapat yang anda berikan sebelumnya penuh dengan kepercayaan diri menguap ditelan bumi.

Anda juga menyadari kalau banyak orang tidak terlalu tertarik berbincang-bincang dengan anda, karena mereka berasumsi wawasan anda tidak seluas staf senior. Berbicara dengan anda hanya akan buang waktu karena anda bukanlah orang yang membuat keputusan. Apa yang anda rasakan jika klien atau mitra kerja anda beramah tamah (bahkan kadang terlalu baik) dengan staf senior anda, dimana anda tahu bahwa dibalik keramahan tersebut ada udang di balik batu.  Anda tidak dianggap ada meskipun anda berada disebelah staf senior tersebut.   Hal yang lebih tidak mengenakan adalah ketika staf senior tersebut sangat sadar dengan power dan kekuasaan yang dia miliki dan kebetulan dia adalah tipikal orang yang tidak mau berbagi kekuasaan.

Dengan situasi yang dijelaskan diatas, apa yang akan anda lakukan? Ternyata tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali bersabar.  Sabar dalam melakukan apa semua yang diperintahkan terlepas anda sependapat atau tidak, terlepas anda suka atau tidak.  Ketika kesabaran anda sudah menipis, maka anda memiliki hak untuk berbicara dengan staf senior tersebut.  Anda berhak mengatakan tidak setuju ketika anda tidak setuju ide dia. Meskipun akhirnya staf senior tersebut tetap menjalankan ide awalnya.

Anda juga berhak mendebat (dalam artian positif) dan men-challenge ide-nya.  Seorang staf senior harus bisa menuntun staf yang lebih muda.  Saat ini bukan zaman-nya lagi menjadi otoriter dimana cukup memberikan perintah tanpa penjelasan.  Staf muda juga berhak penjelasan.  Meski pengalaman tidak sebanyak staf senior namun bukan berarti kemampuan dan kapasitas staf muda tidak lebih baik dari satf senior.  Semua berkaitan dengan kesempatan.  Jika saja staf muda diberikan ruang, diberikan pendampingan dan pengarahan, diberikan kepercayaan, maka dia mungkin akan berkembang pesat melebihi apa yang diharapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s