Bromo dibawah sinar bulan


Pagi hari saya selalu mendapat inspirasi untuk menulis.  Disaat yang sama saya juga harus berangkat bekerja.  Kadang saya memilih untuk menulis dan mengambil resiko terlambat. Hal itulah yang saya lakukan hari ini.

Semua berawal dari keinginan saya untuk berangkat ke Afrika.  Apa yang akan saya jumpai di Afrika? Saya tidak tahu. Namun itulah uniknya mimpi, kadang kita tidak perlu alasan, atau untuk menemukan alasannya kita harus menjalani-nya.  Mimpi itu kemudian yang menuntun saya terus terhubung dengan sesuatu yang ‘berbau’ Afrika.  Teman saya mulai memperkenalkan saya dengan kenalannya yang bekerja di Afrika, atau saya mulai berteman dengan orang yang lulus di Universitas Eropa yang dulunya mempelajari tentang Afrika dan pembangunannya, atau saya mulai mendapatkan informasi atau laporan mengenai situasi kehidupan, politik dan budaya mengenai benua tersebut.  Untuk negara-nya sendiri saya tidak punya spesifikasi, tetapi yang pasti bukan Afrika Selatan.

Negara tersebut adalah negara maju dan bukan merupakan negara Afrika yang ingin saya kunjungi.  Jika saya dipaksa untuk menyebutkan nama satu negara maka saya akan menyebutkan “Ethiopia”.  Bertahun-tahun saya selalu menelusuri mimpi tersebut, dan saya sudah berjanji dalam hidup, kalau suatu saat saya akan ke sana. Yang pasti kesana bukan hanya sebagai turis, datang sekitar dua minggu dan pergi, namun saya akan kesana untuk tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama.  Waktu yang signifikan untuk merasakan kehidupan dan realitas hidup disana.

Jika orang menabung untuk bisa berangkat ke Paris, maka sayapun mulai menabung untuk bisa berangkat ke Afrika.  Saya sudah membayangkan kalau saya akan menjadi volunteer disana, maka untuk itu saya harus memiliki cukup uang untuk membeli tiket pesawat sendiri dan membiayai hidup saya ketika menjadi volunteer disana.  Bertahun-tahun saya bekerja, hanya demi mewujudkan mimpi itu.  Sehingga tawaran untuk beli mobil atau jalan-jalan ke negara maju selalu saya tolak.  Tabungan saya tidak boleh diganggu, semua sudah saya dedikasikan untuk misi saya volunteer ke Afrika.

Teman-teman dekat saya sudah mengenal saya dengan keinginan aneh saya, dan banyak dari mereka yang mendukung. Namun untuk keluarga dan teman yang lain itu adalah perjuangan.  Mereka bilang saya aneh, dan tidak masuk akal.  Apa yang saya cari disana? Disaat saya punya pilihan untuk hidup layak kenapa saya justru memilih untuk susah? Dan kenapa saya rela menghabiskan tabungan dan kemungkinan berhenti dari pekerjaan sekarang, hanya demi sebuah mimpi yang tidak bisa diterima logika?

Saya juga tidak tahu.  Namun mimpi itu begitu kuat, mimpi yang menjadi panutan hidup saya, bahwa materi hanya pelengkap dalam kehidupan namun bukan menjadi tujuan hidup saya.

Dua hari yang lalu. Di tengah malam yang disinari cahaya redup rembulan di Bromo, dengan suhu yang mengigit tulang dan angin yang berhembus kencang, saya kembali merenungi mimpi saya? Kenapa saya mau melakukannya?

Entah kenapa saya seakan diberi kekuatan, dan diberikan jawaban.  Sekarang jika seseorang bertanya kepada saya apa yang ada cari dalam hidup, saya akan menjawab kalau hidup saya adalah ‘pertualang’. Yang saya cari hanya cerita, cerita yang saya harap bisa dibagikan kepada yang lain.  Cerita dengan bumbu yang berbeda ditengah cerita populer yang seragam. Hidup tidak pernah hitam atau putih.  Jadi kenapa tidak dijalani dan dilihat kemana akhirnya.

So, mimpi, tunggulah, aku akan meraih mu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s