Romantisme Jawa Suriname

Tadi malam saya menghadiri acara presentasi dan juga pameran foto mengenai migrasi orang Jawa ke suriname dan ke Belanda. Acara yang menarik.  Belajar sejarah ternyata bisa menyenangkan. Nama Suriname tidak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia.  Hal tersebut dikarenakan keterkaitan sejarah dimana di negara kecil tersebut terdapat orang-orang dari turunan jawa.  Meskipun mereka sudah menjadi warga negara Suriname namun dari bentuk fisik dan juga nilai-nilai yang dianut dan diyakini masih “jawa”.  Secara personal saya meyakini bahwa hubungan ini semakin lama semakin hilang.  Salah satu dari panelis mengatakan bahwa generasi ke dua dan ketiga di Suriname enggan belajar bahasa Jawa, dimana bahasa jawa bukan bahasa ‘keren’ untuk dipelajari.  Saya mewakili generasi muda bisa memahami hal tersebut.  Belajar bahasa jawa tidak mudah. Secara global manfaatnya tidak banyak.  Akan lebih baik saya mempelajari bahasa lain seperti spanyol (karena Suriname adalah bagian dari Amerika Selatan) atau bahasa populer lain seperti Prancis dan Mandarin. (Teman saya di Jakarta yang berasal dari bapak-ibu jawa tidak lagi bisa berbahasa jawa, tetapi dia menguasai banyak bahasa lain).

Berikut adalah sedikit keterangan mengenai Suriname yang saya ambil dari wikipedia: Republik Suriname (Surinam), dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.  Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia-Belanda antara tahun 1890-1939.  Suriname baru menjadi negara merdeka pada tanggal 25 November 1975.

Selain jawa, hindustani juga merupakan suku terbesar yang tinggal di Suriname.  Selain itu juga ada kreol, maroon, indian amerika dan lain-lain.  Agama yang dianut disini beragam, hindu, islam, kriten dan lain-lain.  Hampir seluruh turunan jawa dinegara ini beragama Islam. Berbicara mengenai agama, saya ingat ketika saya chatting dengan teman lewat skype.  Dia sedang bersekolah di Amerika dan baru saja kembali dari menghadiri konferensi iklim di Cacun. Kita berbicara mengenai Suriname.  Dan hal yang dia ingat adalah Suriname merupakan satu-satunya negara di Amerika Selatan yang beragama Islam.  Tetapi ternyata dia tidak sepenuhnya benar.  Baru-baru ini saya membaca kalau negara Guyana juga memiliki 20% dari total populasi yang beragama Islam.  Islam di Surinamepun juga hanya berkisar 20%.

Saya memiliki teman Belanda, yang pernah Volunteer di Suriname.  Menurut dia Suriname negara yang menarik dengan penduduk yang ramah.  Di Indonesia sendiri, dengan semakin berkembangnya komunitas backpacker, meningkatnya kaum terpelajar, meningkatnya perekonomian bangsa, membuat mobilitas warga Indonesia semakin tinggi.  Dengan adanya budget airlines membuat bepergian dari satu negara ke negara lain menjadi sangat mungkin.  Belakangan dalam mailing list perjalanan, banyak orang-orang Indonesia yang tertarik melakukan perjalanan ke negara Amerika latin, peru, kuba, dan tidak lupa tentu saja Suriname.

Saya sendiri juga memimpikan hal yang sama.  Saya berharap suatu saat nanti saya akan menginjakan kaki di kawasan Amerika latin, dan memulai petualang ke Guyana, Suriname, Brazil, Venezuela, dan banyak negara lainnya.

Jika anda kebetulan menginjakan kaki dinegara yang saya sebutkan diatas, jangan lupa berbagi cerita dengan kita semua.

PS: koleksi pribadi + diambil dari http://www.kitlv.nl/home/Projects?id=24

One thought on “Romantisme Jawa Suriname

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s