Gayus will never die

Saya tadi berbincang dengan teman, yang khusus datang untuk mencicipi jamur potabella dan udang goreng saus telur asin.  Resolusi dia di tahun baru ini adalah ingin lebih sibuk dibanding tahun sebelumnya.  Kebetulan teman saya tersebut sekarang bekerja sebagai freelancer di salah satu lembaga training terkemuka di Jakarta.  Pekerjaannya membuat dia bertemu dengan banyak orang baik dari instansi pemerintah maupun dari instansi swasta.  Karena sudah sering bertemu dengan beragam orang maka dia bisa melihat perbedaan pada orang-orang tersebut.  Menurut teman saya tersebut, orang-orang yang bekerja di perusahaan tambang atau bekerja di kantor BUMN terkenal di Indonesia biasanya memiliki penampilan yang “keren” didukung oleh pakaian branded dan gadget super canggih.  Wangi, ganteng, cantik, dan beberapa diantaranya juga ‘sombong’ berlebihan.

Tetapi hal tersebut adalah hal yang wajar.  Adalah fakta bahwa orang dinilai dari tampilan dan juga harta yang dimiliki.  Jika rekan kerja anda di kantor memiliki jabatan yang sama dengan anda, tetapi bapaknya adalah gubernur disalah satu provinsi di Indonesia, atau ibuknya mantan pejabat di Instansi tempat anda bekerja, maka rekan anda tersebut akan mendapatkan perlakuan spesial. Atau bisa jadi rekan kerja anda datang ke kantor dengan mobil baru yang lebih mahal dari mobil atasan anda.  Mobil yang tidak semua orang mampu membelinya, apalagi untuk seorang pekerja dengan jabatan seperti anda. Rekan anda tersebut adalah anak pengusaha kaya, sehingga selain mobil, dia juga sering ke luar negri.  Akankah perlakukan yang diberikan oleh atasan dan rekan kerja anda di kantor terhadap anda dengan dia akan sama? Tanpa menyebutkan anda tahu sendiri jawabannya.

Teman saya yang awalnya tidak terusik dengan materi, akhirnya menjadi terusik juga. Bahwa diskriminasi berdasarkan pendapatan yang dia hadapi membuat dia gerah juga.  Apalagi jika anda tinggal di Jakarta dimana hiburan utama anda adalah mall/ pusat perbelanjaan.  Dan setiap anda pergi ke mall akan selalu ada diskon-diskon menarik, dengan harga miring, sehingga anda akan impulsif dan membeli tanpa pertimbangan.  Misal, anda melihat TV LCD 32 Inch, yang sudah lama anda taksir, tiba-tiba TV tersebut sekarang dijual dengan diskon 50%.  Meskipun TV di kamar anda masih ada, TV 21 Inch semi falt yang baru anda beli dua tahun yang lalu dan berfungsi dengan baik, anda tetap membeli TV LCD tersebut.  Alasan anda membeli adalah karena harganya murah.  Dan anda sudah dari dahulu tertarik untuk membeli LCD.  Anda tidak lagi membeli didasarkan kebutuhan, namun lebih dikarenakan keinginan. TV hanya salah satu contoh.  Banyak orang memiliki HP lebih dari dua, karena tergiur dengan diskon atau karena tergoda oleh perasaan ‘keren’ ketika memiliki-nya.  Demikian juga halnya kamera.  Punya kamera paket tidak cukup. Anda butuh kamera DSLR.  Meskipun anda menggunakan kamera tersebut hanya dua kali setahun, ketika anda berliburan bersama keluarga atau ketika lebaran atau natal.

Orang bekerja bukan lagi karena keinginan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.  Seorang dokter tidak lagi bekerja karena ingin menyembuhkan orang yang sakit, dimana dia melayani pasien dengan sabar dan ramah. Banyak dokter zaman sekarang menjadi ‘sapi’ perah dari rumah sakit atau klinik tempat dia bekerja.  Sehingga banyak dokter tidak lagi ‘berlaku’ sebagaimana seharusnya seorang dokter.  Dokter tidak lebih dari sekedar mata pencaharian, dimana diujung bulan, dokter akan menerima gaji yang akan digunakan untuk melunasi cicilan mobil, cicilan rumah, biaya sekolah anak dan lain-lain.  Beberapa dokter yang masih memegang teguh idealisme-nya, yang nurani-nya terusik ketika melihat klinik tempat dia bekerja hanya mementingkan pendapatan dan untung, namun tetap tidak berdaya ketika klinik tersebut mampu menggaji dia dengan bayaran yang baik, dan bayaran tersebut dibutuhkan untuk tagihan-tagihan, kebutuhan, dan keinginan hidup yang disebutkan diatas.  Profesi dokter hanya salah satu contoh, banyak profesi lain dimana orang hanya menjalani pekerjaan hanya sebagai sebuah ‘pekerjaan’.  Nilai-nilai, keikhlasan, kecintaan, gairah, rasionalitas, semuanya sudah terkikis oleh air dan dihembus oleh angin.  Dan ketika hal ini terus dipertahankan maka akan banyak muncul ‘gayus-gayus’ yang baru.

Jikalau kita memandang orang dari harta dan jabatan yang mereka miliki maka dunia tidak akan pernah berubah.  Orang akan terus berlomba-lomba mencari harta, dan jabatan.  Kenapa? Karena mereka ingin dihargai, dan sayangnya penghargaan terhadap orang pada zaman saat ini lebih banyak diberikan berdasarkan harta, dan pangkat.

Semua orang bisa merubah situasi diatas. Kita bisa mulai dari hal kecil.  Perlakukanlah semua orang sama, meskipun penampilannya lusuh, meskipun dia tidak kaya, meskipun ibu bapak-nya hanya orang biasa. Semua orang dimata tuhan sama. Demikian juga seharusnya dimata kita.  Terlepas dari pangkat, jabatan, harta, suku, maupun agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s