Becoming “Yes Man”

Menjadi pribadi yang ‘berjiwa lapang’ tidaklah mudah. Bagaimana kita bisa menerima kritikan dan masukan meski menurut kita masukan tersebut terkadang tidak relevan.  Adalah tidak mudah untuk terus tersenyum dan optimis disaat anda merasakan bahwa kredibilitas anda dipertanyakan.  Berjiwa sabar dan lapang ternyata butuh latihan.  Setidaknya itulah yang saya rasakan.  Saya dibesarkan dibudaya dimana jika tidak sependapat maka kita berhak untuk mengajukan keberatan dan mengemukan  pendapat kita.   Dan jika dari diskusi ternyata masukan orang tersebut lebih kuat maka baru saya bisa menerima keputusan tersebut, dan kita akan menerima keputusan tersebut dengan senang hati.

Namun tidak semua lingkungan membolehkan kita untuk secara bebas mengemukakan pendapat.  Untuk beberapa rekan kerja atau atasan, lebih mudah jika kita menerima masukan tanpa harus mengemukakan argumen atau pendapat kita.  Masukan yang diberikan harus diterima sebagai suatu kebenaran, tidak perlu dipertanyakan lagi.  Jika anda mempertanyakan kebenaran masukan hal tersebut sama halnya anda mempertanyakan kredibilitas si pemberi masukan.  Dan sering hal ini hanya memancing ketegangan.  Pernahkan anda menonton film Adam Sandler, Yes Man? Ya, menjadi “yes” man kadang membuat hidup anda lebih mudah.

Semua orang memiliki ego, dan sering kita merasa kita benar atau lebih benar.  Namun kita juga harus jujur bahwasanya juga tidak selalu kita benar.  Sering juga kalau kita membuat keputusan yang salah.  Orang besar adalah orang yang bisa menerima kenyataan ketika dia salah, ketika dia diragukan, ketika dia bukan siapa-siapa.  Orang yang besar akan menganggap tantangan sebagai pertanda bahwasanya dia harus bekerja lebih maksimal dan lebih keras lagi.  Kalau dia harus menggali lebih dalam potensi yang dimiliki.  Bukan menyerah dan menyalahkan situasi. Meski tidak mudah bagi sebagian dari anda, mari kita berlatih menjadi “yes man”

One thought on “Becoming “Yes Man”

  1. “Yes Man” (kalau di kalangan feminis bisa jadi masalah nih ^^,; kenapa harus “Man”? Bisa jadi atasan kita Woman hehehe… ah, tapi ini masalah kebiasaan aja :P). Aku sepakat “Yes Man” perlu (tergantung konteks), tapi yang lebih penting adalah integritas kita tidak hilang.
    Kata seorang teman, “kritis itu perlu, tapi harus dilakukan dengan cara yang cerdik”😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s