Maju terus pantang mundur

Kita bekerja sangat keras.  Tak jarang kita kelelahan sehingga tidak memiliki waktu untuk menikmatinya.  Hingga tiba dimana saat dimana segalanya berlalu, dan anda baru menyadari kenapa saya tidak berusaha menikmati ketika segala sesuatunya ada ditangan. Saya sering menulis di blog ini mengenai ‘berhenti dan nikmati’.  Disaat kesibukan anda bertumpuk, disaat banyak tugas dan deadline yang harus diselesaikan.  Ambilah waktu untuk berdiam diri sejenak dan gunakan waktu tersebut untuk merenungi apa yang sudah anda dapatkan dalam hidup ini.  Apakah benar hidup anda berjalan ke arah yang anda inginkan? Atau apakah anda berlari kencang, sesak nafas namun anda tidak beranjak dari tempat duduk anda?

Percayalah, jika anda tidak melakukan hal ini bisa jadi anda akan sampai disebuah titik hidup anda dan anda menyesali apa yang telah terjadi.   Jikalau di kehidupan profesional kita sangat terbiasa dengan review, apraisal, monitoring, dan evaluasi, maka jangan lupakan diri anda.  Diri anda juga perlu mendapatkan apraisal dan evaluasi.  Dengan melakukan itu anda akan lebih bijak dan juga lebih pintar dalam menentukan arah hidup anda. Percayalah.

Tadi malam saya berbicara hingga larut malam dengan nyokap saya yang tinggal ribuan mil dari saya.  Dengan jarak yang terbentang luas hubungan kita justru malah lebih dekat. Dia bercerita dengan antusias mengenai ruko baru yang tengah dia bangun.  Dia senang ketika sudah banyak orang menyampaikan kehendak untuk menyewa meskipun ruko tersebut belum selesai dibangun. Padahal ketika dia pertama kali ingin membangun ruko itu, kita keluarganya menentang.   Saya ingat pertanyaan kakak saya pada waktu “membangun membutuhkan uang yang cukup banyak, mau dapat duit dari mana”?

Nyokap saya memiliki keinginan yang kuat dan dia tidak segera berpatah semangat meski dia tidak memiliki cukup modal.  Tetapi hal yang dimiliki oleh nyokap saya, dan hal yang tidak kita miliki adalah ‘keberanian’ dan ‘keyakinan’.  Dia dengan berani meminjam modal ke Bank dengan menjaminkan rumah kita (yang tentu saja miliknya).  Dan dia berhasil membuktikan kalau dia bisa mewujudkan keinginannya. Sekarang ini dia berfikir untuk serius menekuni bisnis property.  Dan dia bilang, kenapa saya tidak melakukan hal ini dari dulu? Hal itu tentu saja karena dia terlalu sibuk, sibuk bekerja menghidupi keluarganya, sibuk menjadi pengurus rumah tangga, dan segudang kesibukan lainnya. Dan dia baru memiliki waktu untuk merenung dua tahun terakhir ketika keluarga kita ditimpa musibah.

Berbeda dengan nyokap, bokap memiliki kualifikasi lebih tinggi untuk sukses dari pada nyokap.  Dia berpendidikan master, dia memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dia simpatik dan dia juga pintar.  Namun satu hal yang tidak dimiliki oleh bokap adalah ‘persisten dan konsisten’, dia tidak memiliki mental baja seperti nyokap.  Dia akan mundur teratur jika merasa kalau masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan.  Dia sering mengalah meskipun dia banyak dirugikan. Dia tidak akan berjuang, berteriak, maju hingga titip darah penghabisan. Dan ternyata di dalam kehidupan ini pendidikan dan skill tangible lainnya tidak cukup.  Kita butuh mental ‘wirausaha’ dan ‘pantang menyerah’.

Apapun yang tengah anda hadapi, berapapun beratnya masalah yang tengah melanda anda, jangan berhenti dan menyerah.  Berjuanglah dan terus maju. Karena hanya dengan berjuang anda bisa berhasil dan sukses.  Orang boleh meragukan diri anda namun anda tidak boleh meragukan kemampuan dan kekuatan anda sendiri.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s