Lain lubuk lain ikannya

Sudah lama saya tidak lagi menulis di blog ini. Saya sempat lupa kalau saya pernah punya blog. Selain lupa menulis beberapa minggu ini saya juga malas membaca. Saya memiliki beberapa buku yang bahkan sampulnya saja belum di buka. Padahal disatu sisi saya sudah mengurangi jam kerja dari bekerja 5 hari seminggu menjadi 4 hari seminggu.  Ketika saya mengajukan pengurangan jam kerja kepada atasan saya, alasan yang saya ajukan adalah kalau saya ingin memiliki waktu pribadi untuk melakukan hal yang saya senangi, salah satunya adalah menulis.

Menjadi dispilin dengan diri sendiri tidaklah hal yang mudah. Keinginan dan hasrat adalah ibaratkan air laut yang kadang pasang dan kadang surut. Begitu juga keinginan saya yang sempat menggebu untuk menuliskan semua yang ada difikiran ini juga mengalami pasang surut-nya.  Tetapi secara keseluruhan mengurangi jam kerja membuat hidup saya lebih bermakna.  Atau mungkin tepatnya membuat saya benar-benar hidup.  Saya tidak lagi menjadi hamba dari sebuah pekerjaan.  Saya tidak lagi bekerja karena hal tersebut adalah sebuah pekerjaan.  Tetapi saya juga memiliki waktu untuk menghayati dan mengapresiasi hal yang saya kerjakan.

Misalkan, hampir dari 40% lebih dari pekerjaan saya mengharuskan saya melakukan perjalanan keluar kota.  Hal ini memberikan saya kesempatan untuk mengenal banyak sisi lain dari negara yang kita cintai ini.  Tidak hanya melihat pememandangan atau seni budaya-nya sering saya mendapatkan kesempatan untuk tinggal langsung di rumah penduduk-nya dan untuk sesaat menjadi bagian dari mereka.  Dan sering ketika malam hari, menjelang tidur, saya membayangkan berbagai suasana rumah dimana saya menumpang menginap.  Kehidupan setiap rumah tangga disetiap lokasi dan daerah sungguh berbeda. Hal itu menunjukan bahwa hidup itu begitu luas dan begitu beragam.

Sayang banyak orang tidak dapat merasakan keberagaman dan kehidupan lain di luar dunia yang mereka kenal.  Ketika mereka hanya mengenal komunitas dan masyarakatnya dan juga hanya memiliki satu nilai hidup, pilihan hiduppun menjadi terbatas.  Banyak pemuda di daerah perdesaan, pada umur 20 tahun sudah menikah.  Perempuan bahkan menikah lebih cepat seperti 17 atau 19 tahun.  Umur 20 tahun adalah umur yang terbilang tua, dan sering gadis yang hidup di daerah perdesaan menjadi khawatir. Dan cenderung pada usia segitu mereka akan menerima siapapun yang mengajukan lamaran. Ketika di India, saya juga memiliki kesempatan untuk masuk ke perdesaan jauh dipedalaman.

Disitu saya bertemu dengan keluarga yang bercerita kalau mereka menikah dulu di usia yang sangat muda.  Si perempuan berusia 13 tahun dan si lelaki berusia 17 tahun.  Kata si ibu tersebut, pada waktu itu, usia 13 adalah usia dimana gadis harus menikah.  Jika usia gadis mencapai 15 tahun dan belum menikah hal tersebut akan menjadi aib keluarga.  Ketika saya bertanya mengenai situasi zaman sekarang, anak gadis dari keluarga tersebut yang dari tadi diam jadi ikut berkomentar.  Dia bilang kalau anak gadis sudah banyak yang bersekolah.  Batas usia dimana gadis harus menikah sudah bergeser, dimana dimasa orang tua-nya adalah 15 tahun, dimasa sekarang adalah 20 tahun. Anak gadis itu sudah berusia 17 tahun, diapun bilang, jika dia mendapatkan lamaran yang tepat maka dia juga akan segera menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s