Berpetualangan dengan Teman Bangladesh

Hari ini saya menghabiskan waktu untuk menemani satu orang teman dari Bangladesh, perempuan berumur kurang lebih 35 tahun.  Ini adalah kali pertama dia ke Bali.  Dia sangat antusias untuk berkunjung ke banyak objek wisata di Bali. Namun jadwal kursus kita cukup padat dan serius sehingga kita tidak memiliki cukup waktu.  Hari ini sebenarnya waktu juga tidak cukup, karena jam 1 dia harus berangkat ke Bandara.

Dia sangat tertarik untuk naik motor.  Dia belum pernah naik motor sebelumnya.  Menurut dia, di Banglades, motor tidak sebanyak di Bali atau di Indonesia, dan perempuan, nyaris tidak ada yang mengendarai motor disana.   Banglades adalah negara dengan muslim sebagai populasi terbesar yang juga merupakan negara tetangganya India. Ketika makan siang bareng, saya menjanjikan untuk merental motor, dan membawa dia jalan-jalan.

Pagi ini saya menepati janji.  Meski berangkatnya terlambat dari waktu yang direncanakan, kita tetap pergi.  Saya orangnya tepat waktu, sehingga ketika dia terlambat saya sempat kesal.  Namun saya juga maklum dia terlambat bangun karena semalam dia sibuk berbelanja.  Kita menyewa motor di daerah sanur, harga sewa motornya adalah 60 ribu per hari.  Saya mendapatkan motor Vario biru.  Kondisinya tidak begitu stabil, stangnya agak goyang.  Saya ingin menukarnya, namun menurut pemilik rental tersebut, dia tidak memiliki motor lain. Motor mereka yang lain sedang rusak, dan ada motor yang STNK-nya masih sedang di urus di kapolsek. Mereka hanya menyarankan agar saya tetap membawa motor tersebut dan mengendarainya pelan-pelan.

Saya membawa teman saya tersebut ke Monkey Forest, Ubud.  Sepanjang jalan, dia tidak hentinya berterimakasih.  Dia sangat senang.  Ketika melewati daerah persawahan dia berkata seakan dia serasa kalau dia berada di Bangladesh, meskipun demikian dia juga mengakui kalau bali tidak bisa dibandingkan dengan bangladesh.  Padahal sebelumnya mereka memuji-muji pantai Cox Bazaar di Bangladesh yang katanya pantai terpanjang di dunia.  Ketika mereka berkunjung ke Tanah Lot, mereka segera meralat kalau pantai mereka tidak bisa dibandingkan dengan tanah lot. Lanscape dan panoroma tanah lot jauh lebih indah dari pada pantai kebanggaan mereka.

Sebelumnya, saya berencana untuk berangkat ke Lombok.  Saya sudah berjanji dengan teman saya yang sedang bertugas disana.  Kita akan menelusuri desa-desa dan daerah pedalaman lombok.  Kita akan trekking ke air terjun dan jika masih ada waktu akan meneruskan perjalanan ke Gunung Rinjani. Tetapi akhirnya saya membatalkan rencana ke lombok, karena saya ingin menemani teman bangladesh tersebut jalan-jalan di Bali.  Saya masih bisa bertemu dengan teman saya yang di lombok lain waktu sedangkan teman bangladesh saya belum tentu memiliki kesempatan untuk kembali ke Bali.

Saya sudah mengunjungi monkey forest beberapa kali.  Bagaimanapun ke monkey forest tidak pernah membosankan.

Saya memberikan kesempatan kepada teman bangladesh saya untuk berpose diatas sepeda motor. Dia sangat senang bahkan dia berniat akan membeli motor disana, dan mungkin akan menjadi wanita pertama yang mengendarai motor di Bangladesh.

Ketika balik ke Hotel, saya bertemu dengan teman bangladesh perempuan yang satunya.  Dia tidak terlalu suka jalan-jalan, jadi dia lebih memilih menunggu di Hotel. Sementara teman bangladesh yang saya bawa naik motor mandi dan bersiap-siap check out, saya menghabiskan waktu dengan teman bangladesh yang lebih pendiam ini.  Dia berusia sekitar 35 tahunan, sudah menikah dan punya anak berumur 5 tahunan. Di Bangladesh, hampir 90% pernikahan adalah melalui perjodohan. Dia sendiri menikah juga melalui perjodohan. Dia bilang kalau dia beruntung mendapatkan suami yang baik.

Saya kemudian bertanya, apakah semua orang beruntung seperti dia? Dia bilang, tidak semua suami supportive dan baik seperti suaminya, namun secara umum laki-laki Bangladesh adalah “family oriented man”.  Biasanya keluarga sudah menyaring terlebih dahulu, keluarga memperhatikan kelakuan, tata krama, agama, dan juga pekerjaan laki-laki tersebut. Keluarga pasti akan memilihkan laki-laki yang terbaik untuk perempuan tersebut.

Iseng saya bertanya “apakah ada orang bangladesh yang menikah beda agama?” dia bilang kalau hal tersebut hampir tidak pernah terjadi. Teman saya tersebut beragama Hindu. “Baik di Hindu dan Islam, tidak ada yang membolehkan menikah dengan orang diluar agama mereka”. Tetapi dia sambil tersenyum bilang kalau sepupu-nya melakukan hal tersebut. Sepupunya Hindu, menikah dengan Muslim. Terus apa yang terjadi tanya saya? Setengah bercanda dia bilang kalau sepupunya “ditendang” dari keluarga besar.

Di Bangladesh, jika perempuan bekerja, maka dia akan lebih mudah untuk mendapatkan suami.  Umumnya laki-laki disana mencari perempuan yang juga bekerja.  Hal ini mungkin dikarenakan beban hidup yang cukup tinggi, sehingga akan sulit jika hanya mengandalkan pendapatan dari Suami saja.

Banyak cerita menarik yang saya pelajari dari dia.  Meskipun berbeda namun banyak juga persamaan diantara kita.  Namun dengan perkembangan tekhnologi dan globalisasi, maka nilai-nilai yang lama akan tergantikan dengan nilai-nilai yang baru. Dan mungkin jika dua generasi setelah saya bertemu dengan orang bangladesh, ceritanya akan berbeda. Indonesia juga demikian.  Indonesia tidak akan pernah lagi menjadi Indonesia yang sama.

Dimasa nenek dan kakek kita, mungkin jarang kita menemui ada orang menikah berbeda suku, misal suku manado menikah dengan sunda.  Tetapi di zaman sekarang semakin banyak orang yang menikah antar suku, dan tak jarang menikah antar agama.  Perubahan selalu memiliki dua sisi, selalu ada baik, dan juga ada yang kurang baiknya.  Pernahkah anda membayangkan hidup di abad 15, di zaman kerajaan, dimana orang hidup dengan hirarkis dan penuh keterbatasan? Perang terjadi dimana-mana? Dan manusia tidak memiliki kesempatan yang sama? Anda tentunya bersyukur untuk hidup di zaman sekarang.

Sabtu, 2 April 2011

2 thoughts on “Berpetualangan dengan Teman Bangladesh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s