Tindakan dan Konsekuensi

Barusan saya bertemu dengan seorang teman lama.  Teman bukanlah kata yang tepat sebenarnya, karena saya tidak pernah merasa dekat atau berteman dengan-nya.  Dia juga bukan seorang rekan kerja.  Kami bertemu untuk urusan kerjaan, bertukar kartu nama, dan setelah itu saya menerima telfon dan beberapa ajakan darinya. Orangnya ramah dan ajakan dia ngga aneh-aneh, dia hanya bersikap ramah dan  berusaha menjadi teman yang baik.  Selain trekking dan hiking, dia juga mengundang saya ke acara makan malam, main bulu tangkis, dan lain-lain. 

Tetapi ketika seseorang terlalu ramah, saya juga menjadi tidak nyaman.  Usia dia lebih tua sekitar 25 tahun.  Dia berpendidikan tinggi dan lebih pantas menjadi atasan saya.  Bagi saya yang Indonesia, saya masih merasakan jarak dan tidak menganggap dia sebagai teman benaran, dia hanya kenalan. 

Pada suatu hari saya dikejutkan ketika dia bercerita hal yang sangat pribadi dan menurut saya tidak pantas diceritakan kepada seorang kenalan yang belum terlalu lama dikenal. Waktu itu kita baru beberapa minggu.  Dia bercerita jikalau dia sedang mengurus perceraian dengan istrinya.  Dia dan istrinya sudah berpisah cukup lama dan dia akan mengurus perceraian resminya.  Dia mengeluhkan jikalau istrinya meminta bagian harta lebih banyak dari yang seharusnya dia terima.  Dia juga bercerita kalau dia tidak memiliki hubungan baik dengan anak-nya yang memasuki usia dewasa. Dia orang eropa, berkulit putih, sedangkan istri yang dia ceritakan adalah orang Indonesia.

Lama saya tidak bertemu dengan dia, setelah momen curhat tersebut, satu tahun berlalu.   Kami bertemu kembali disalah satu acara perpisahan teman, dan disana, dia langsung duduk disebelah saya dan bercerita jikalau pacarnya, orang Indonesia tengah hamil, dan meminta agar mereka segera menikah. Dia mengeluh dan bilang kalau hal tersebut bukan tanggungjawab-nya.  Dari awal dia sudah menegaskan ke pacarnya kalau dia tidak ingin punya anak, dan dia  menduga kalau pacarnya sengaja membuat dirinya sendiri hamil. Dia tidak akan menikahi pacar-nya.  Dia menganggap itu adalah karena kelalaian pacarnya. Saya masih kaget, sementara dia bercerita panjang lebar tanpa henti.  Bagi saya hal tersebut tidak patut diceritakan.

Saya menganggap jikalau kenalan yang satu ini aneh.  Dan sebaiknya saya menjauh darinya. Dan saya tidak pernah bertemu lagi, meski kita kadang masih bertegur sapa lewat facebook.  Saya pindah tugas, dia juga pindah tugas ke luar negri. Terakhir yang saya tahu, dia sudah punya pacar lagi, dan tak lama kemudian dia menikah, pacarnya orang asia, namun bukan Indonesia.

Tiga tahun berlalu, dan tiba-tiba dia mengirimkan email kepada saya menginformasikan kalau dia lagi di Indonesia dan mengajak bertemu.  Saya tidak tertarik.  Saya membayangkan masa lalu, masa dimana selalu bercerita mengenai dirinya.  Jika dia menganggap saya teman, dia tahu apa tentang saya? Dia tidak pernah bertanya apapun tentang kehidupan saya. Memang hanya dia yang punya masalah di dunia ini.  Pertemuan terakhir dengan dia, tiga tahun yang lalu juga membuat saya kehilangan simpati.  Bercerita mengenai kerjaan sekarang juga tidak relevan. Bercerita mengenai hobi juga tidak akan nyambung, dia suka bersenang-senang, sementara saya suka tinggal di rumah duduk mendengarkan musik. 

Teman saya tersebut merubah jadwal tiketnya agar bisa bertemu dengan saya. Hal ini membuat saya merasa memiliki kewajiban untuk menemui-nya.  Kakak saya juga menyarankan untuk menemui-nya.  Jika dia membosankan maka segera tinggalkan. Akhirnya saya datang menemuinya.  Saya yakin dia tidak berubah. Sayapun meyakinkan diri kalau pertemuan ini hanya akan menjadi pertemuan singkat. Pertemuan sebatas menghargai seorang teman.

Dengan pekerjaannya sekarang yang bergaji luar biasa besar, istri cantik dan pintar, tentunya dia akan sedikit lebih ceria dan bahagia.  Dia mungkin tidak akan berkeluh kesah lagi. Tetapi benar jikalau tahun tidak akan mengubah seseorang.  Dia bercerita bagaimana dia harus menyokong hidup mantan istri dan anak dari istri pertama.  Dan dia juga mengeluhkan tentang mantan pacarnya yang tidak kooperatif, dia tidak diperbolehkan menemui anaknya.  Dia terlihat menyayangi anaknya dari mantan pacar tersebut.  Terlihat ada kesedihan dan penyesalan. Rasa sayang yang membuat dia hampir menangis. Saya yang mendengarkan ceritanya, ikut dapat merasakan kepedihanya.

Bagaimanapun saya justru merasa simpati dengan mantan pacarnya, tidak mudah untuk menjadi single parent di Indonesia.  Apalagi untuk punya anak tanpa ada ikatan pernikahan.  Beban dari mantan pacar ini, tidak akan pernah dimengerti oleh kenalan saya. Karena di tengah komunitas-nya, orang bisa menerima seorang perempuan membesarkan anak tanpa menikah, namun tidak di Indonesia. Dan rasanya tidak adil jika mengatakan mantan pacarnya tidak kooperatif, karena dia masih menyimpan sakit dan trauma. Apalagi ketika kenalan saya tersebut memutuskan untuk menikahi orang lain.

Seperti janji saya ketika berangkat, saya tidak ingin menghabiskan waktu lama.  Oleh karena itu, ketika kopi saya sudah habis, saya segera pamit pulang. 

 

2 thoughts on “Tindakan dan Konsekuensi

  1. Di awal tulisan, anda menuliskan ‘kita’ seharusnya ‘kami’. Ada perbedaan antara ‘kita’ dan ‘kami’. ‘kita’ yang dimaksud adalah penulis dan pembaca. Kalau ‘kami’, maka pembaca tidak dilibatkan dalam cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s