Understanding Papua (part 1)

IMG_8239Apa yang anda ketahui mengenai Papua? Pada artikel ini saya akan membahas sedikit banyaknya mengenai Papua berdasarkan pengalaman saya tinggal dan berinteraksi dengan orang-orang Papua. Pada tulisan sebelumnya saya pernah menuliskan kalau secara umum Papua bisa dibagi menjadi dua, Papua pantai dan Papua gunung.  Papua pantai dan gunung tidak sama. Ada terdapat perbedaan makanan pokok dan juga perbedaan karakter.  Secara budaya dan bahasa, menurut dewan adat Papua, Papua dibagi menjadi tujuh wilayah atau tujuh rumpun.  Berdasarkan suku dan bahasa, konon, terdapat lebih dari 200 bahasa di Papua.

Sering, kita, orang Indonesia barat, atau disebut juga dengan nama orang nusantara di Papua, menganggap kalau Papua tersebut hanya satu. Papua adalah hitam kulitnya dan keriting rambutnya. Banyak juga masyarakat Indonesia yang masih menganggap kalau Papua tersebut adalah busur dan panah serta koteka.

Mari kita mulai dulu dari makanan terkenal Papua, Papeda.  Sekarang papeda adalah makanan yang terbuat dari sagu, umum dikenal berwarna putih. Tetapi di beberapa wilayah lain, atau ketika sagu tersebut masih baru, kita bisa menemukan sagu dengan warna agak sedikit merah muda, dengan warna putih tetap mendominasi.  Sagu tersebut diambil dari pohon sagu, atau rumbia. Batang sagu dipotong, dibelah, ditumbuk, disaring berkali-kali hingga akhirnya sagu di dapat. Sagu ini dijual dalam bentuk sagu basar dan sagu kering.  Sagu tersebut dicampur dengan air panas dengan komposisi tertentu. Sagu akan berbentuk seperti lem, lengket.  Sagu itulah yang disebut Papeda. Sagu dimasak tanpa garam atau campuran bumbu lainnya. Rasanya tawar.

Papeda tersebut menjadi enak disantap karena disajikan dengan ikan kuah kuning.  Kuah ikan dan papeda panas yang dihidangkan dipiring akan terasa lezat.  Saya sudah terbiasa makan papeda, apalagi kalau kuah ikan tersebut agak sedikit pedas. Makan Papeda dengan berkeringat bercucuran sudah menjadi kebiasaan baru saya semenjak tinggal di Papua.  Ikan yang dimasak untuk menjadi teman Papeda bisa dari berbagai jenis ikan, umumnya ikan laut seperti tongkol atau cakalang, tuna, tenggiri, kakap, dan lain-lain.  Untuk kuah, bumbunya sangat sederhana: bawang merah, bawang putih, cabe rawit, kunyit, jahe, lengkuas, serai, dan jangan lupa daun kemangi.

Pada awalnya lidah saya agak merasa aneh ketika menelan Papeda, tetapi sekarang saya sudah mulai terbiasa. Hal ini juga didorong oleh keinginan saya untuk mengkonsumsi semaksimal mungkin makanan lokal.  Sedikitnya inilah hal terkecil yang bisa saya lakukan untuk mengurangi dampak globalisasi dan meningkatkan perekonomian lokal.

Papeda umumnya adalah makanan Papua pantai.  Tetapi tentunya saat ini, Papeda sebagai makanan pokok sudah tergeser oleh beras dan juga indomie. Iya, mie instant adalah salah satu makanan populer di Papua.  Mie instant cocok di lidah Papua. Dan sepertinya pengetahuan mengenai keamanan pangan masih belum sepenuhnya dipahami atau mungkin tidak diketahui, mereka mungkin tidak tahu kalau mengkonsumsi mie instan secara terus menerus dan jumlah berlebihan dapat membahayakan kesehatan.

Pohon sagu sendiri jumlahnya terus berkurang di Papua. Iniatif untuk menanam pohon sagu pernah digalakkan, tetapi masih sangat terbatas.  Umumnya sagu tumbuh liar, dan sagu itulah yang dipanen oleh masyarakat Papua pantai. Hanya saja, dikarenakan populasi yang terus bertambah, kebutuhan akan sagu meningkat, dan sagu yang ditebang tidak diiringi dengan penanaman kembali.

Meskipun saya sudah secara rutin mengkonsumsi sagu, tetapi rasa kenyangnya nasi masih belum sepenuhnya tergantikan. Tak jarang meski sudah makan banyak papeda, perut saya lapar kembali.  Biasanya strategi saya adalah, selain makan papeda dan ikan, saya juga mengkonsumsi sayur, dan jikalau saya lapar saya akan mengkonsumsi snack atau makan kembali. Siapa bilang kalau makan hanya boleh 3 kali? Makan sering malah lebih baik dibandingkan makan makanan cemilan tidak sehat dan tinggi kalori dan lemak.

Selain sagu, talas atau umum disebut kaladi disini, dan juga ubi jular, disebut juga dengan nama petatas, masih dikonsumsi sebagai makanan pokok oleh sebagian masyarakat Papua pantai. Masyarakat usia diatas 40 tahun, dan masyarakat yang tinggal di kampung masih belum bisa sepenuhnya meninggalkan umbi-umbian. Banyak yang bilang kalau rasanya belum makan tiga makanan yang saya sebutkan diatas.  Tetapi di kalangan masyarakat ekonomi menengah Papua dan masyarakat Papua kota mereka sudah terbiasa dengan makan nasi. Seorang gadis remaja yang pernah saya tanya bilang kalau rasanya belum makan kalau belum makan nasi, sementara ibunya malah berkata sebaliknya, rasanya belum makan kalau belum makan keladi.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s