Understanding Papua (part 2)

IMG_8328Papua dan minuman keras sudah bukan hal asing lagi.  Melihat orang mabuk dijalan sudah hal biasa.  Apalagi ketika menjelang perayaan natal dan tahun baru.  Minum-minuman keras katanya sudah menjadi tradisi, tetapi parahnya generasi muda, bahkan diusia sangat belia, seperti SMP, sudah mulai mengkonsumsi minuman keras, tidak hanya itu, rokok juga.  Minuman keras dan rokok, mau dibawa kemana Papua?.  Para orang tua di Papua cemas dengan pergaulan anak mereka. Mereka tidak bangga dengan tradisi minum minuman keras dikalangan remaja.  Ancaman HIV/AIDS dikalangan anak muda juga nyata.  Minum hingga mabuk dan merokok, umumnya hanya dilakukan oleh laki-laki.  Perempuan biasanya akan menjadi sasaran kekerasan ketika laki-laki Papua sudah mulai mabuk.

Secara pendidikan, Papua jauh tertinggal dari daerah lain di Indonesia, khususnya daerah jawa dan sumatra.  Hal ini dikarenakan kurangnya jumlah guru dan sarana pendidikan lainnya. Salah seorang remaja putri yang saya kenal sering libur sekolah atau pulang cepat dengan alasan ibu guru tidak ada. Atau ketika pelajaran bahasa Inggris belum mereka dapatkan karena gurunya masih belum ada. Banyak yang tidak memiliki buku pelajaran. Dan buku di Papua sangat mahal, selain itu pilihan terbatas. Paling hanya masyarakat Papua di Jayapura yang masih bisa mendapat kemudahan dikarekan kehadiran gramedia, tetapi ditempat lain sangat susah.   Dan pergi ke Ibu kota, Jayapura, di Papua tidak sama dengan ketika orang Jawa tengah, misal dari Gunung Kidul pergi ke Jogya atau ketika orang Malang pergi ke Surabaya, dimana perjalanan tersebut bisa mereka tempuh dengan bis dengan ongkos yang relatif terjangkau. Di papua, tak jarang alternatif transportasi yang tersedia hanya dengan pesawat terbang. Dan tak jarang orang juga harus naik dua kali penerbangan sebelum akhirnya sampai di Jayapura. Ongkosnya? Jutaan. Ongkos yang mungkin hanya 40,000 ribu di pulau jawa di Papua bisa menjadi 4 juta.

Secara arus komunikasi Papua juga tertinggal.  Di banyak kabupaten di Papua, siaran TV hanya bisa ditangkap dengan menggunakan Parabola.  Di Jakarta, dengan antena seharga 25 ribu rupiah, masyarakat sudah bisa mendapatkan kurang lebih 10 channel TV, tetapi di Papua untuk mendapatkan yang sama, seseorang harus mengeluarkan setidaknya 2,5 juta untuk membeli parabola dan ongkos pasangnya.  Di Jakarta, dua tahun yang lalu, saya hanya mengeluarkan uang sebanyak kurang lebih 300 ribu untuk layanan TV kabel dan Internet broadband 24 jam dengan First Media. Tetapi di Papua, saya harus membeli Parabola dan peralatan receiver Telkomvision dengan harga sekitar 2,5 juta dengan ongkos pasang, dan membayar bulanan sesuai dengan paket yang saya pilih.  Sedangkan untuk internet, layanan speedy sudah tidak tersedia (waiting list), dan alternatif lain hanya Indosat broadband dengan iuran bulanan 4 juta. Untuk TV, karena kebutuhan berita, saya masih mau invest, tetapi untuk langganan internet broadband sudah tidak terjangkau lagi oleh kantong saya. Akhirnya untuk kebutuhan internet saat ini, saya menggunakan fasilitas umum, warnet, dengan biaya 10.000/jam.  Telkomflash saya dengan kartu halo simpati tidak berguna, modem tersebut tertidur lelah didalam laci lemari. Sementara teman saya di Jakarta merasa puas dengan paket internet dan modem dari Simpati tersebut.  Di Papua, paket talkmania juga tidak berlaku. Sehingga saya harus membayar cukup mahal jikalau ingin mengobrol dengan teman dan keluarga. Banyak tempat di Papua masih belum terjangkau sinyal.  Jikalaupun ada, jaringan sering terganggu.  Tak jarang orang harus mengulang kalimat yang sama hingga tiga kali, artinya tiga kali biaya juga.

Orang Papua sadar akan kekayaan tanahnya.  Tetapi hal ini tidak cukup memotivasi mereka untuk meningkatkan daya saingnya.  Kekayaan tanpa sumber daya manusia yang bagus tidak akan ada artinya. Hal itu sudah terlihat saat ini. Hampir semua bisnis di Jayapura dan ibu kota kecamatan lain di Papua dikuasai oleh pendatang.

Pendatang datang dengan semangat “aku datang, berjuang, dan menang” sementara orang Papua hanya menatap tanpa tergerak untuk turut berjuang dan memenangkan ‘pertarungan’.  Jikalaupun ada orang Papua dengan semangat yang sama, jumlah mereka sangat sedikit, sementara yang lainnya banyak terlelap, dan larut dengan minuman keras.

Nasib Papua akan tergantung pada generasi mudanya, oleh karena pemerintah nasional dan pemerintah lokal harus mengembangkan program-program yang dapat mencerdaskan dan  meningkatkan daya saing generasi muda Papua.  Masyarakat Papua perlu untuk mengetahui bahwasanya tantangan kedepan makin berat, yang memiliki keahlian dan kualitas tinggi maka merekalah yang akan berjaya.   Dunia diluar Papua berputar sangat cepat, dan masih banyak orang Papua yang masih belum mengetahuinya.

Mungkin akan menarik juga kalau ada program TV yang meliput pembangunan di Papua secara berkala. Mengedukasi masyarakat Indonesia lainnya mengenai Papua.  Bagaimana mungkin persatuan dan kesatuan bisa terwujud jikalau masyarakat tidak saling mengenal. Bukannya tak kenal maka tak sayang?

Atau program pertukaran pemuda antar provinsi akan menarik. Bayangkan kalau pemuda Papua tinggal dan belajar budaya jawa atau sumatra.  Merasakan tantangan dan juga kemudahan tinggal diprovinsi lain selain Papua?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s