When I grow up

Semasa kecil dahulu tentunya kita pernah membayangkan dewasanya hendak menjadi apa? Semenjak dari TK, saya sudah terbiasa mendengar pertanyaan ibu guru “anak-anak, cita-citanya mau jadi apa?” atau “Anak-anak nanti kalau sudah besar mau menjadi apa?”

Jawaban umum yang diberikan adalah “Mau jadi Dokter” atau ada juga “mau jadi presiden” dan tentu pula tak lupa “mau jadi guru”. Saya yakin kalau anak sekolah ditanyakan pertanyaan yang sama saat ini jawabannya akan kurang lebih sama. Seakan tidak ada profesi lain di dunia ini.

Bagaimana dengan anak SMU, jikalau mereka ditanyakan pertanyaan yang sama, tidak spontan seperti halnya jawaban anak SD, anak SMU mungkin akan berfikir sejenak. Iya, hendak mau jadi apa?

Terus bagaimana dengan anda yang sudah lulus dari bangku kuliah, atau anda yang saat ini tengah bekerja, apakah pertanyaan yang sama masih bisa ditanyakan ke anda? Apakah anda masih memiliki kesempatan untuk berfikir?

Sayangnya ketika dewasa kita kehilangan kebebasan dalam memilih.  Tak jarang banyak orang harus menjalankan satu profesi terlepas dari suka atau tidak suka. Itu lah hidup.  Menjadi dewasa artinya adalah menerima kehidupan. Menerima apa yang sudah menjadi jalan kebanyakan. Mengikuti arus dominan.

Sekarang jikalau ditanya ketika dewasa nanti mau jadi apa? Orang dewasa akan mengarahkan anaknya untuk menjawab menjadi orang yang memiliki banyak uang.  Iya, apapun jenis pekerjaan anda, anda harus memiliki uang. Uang memiliki nilai yang vital dimasa sekarang. Uang berarti sanjungan dan penghormatan. Tak jarang jumlah uang yang anda miliki akan menentukan kualitas layanan yang anda dapatkan. Terbang dengan pesawat merpati dan garuda adalah dua buah pengalaman terbang berbeda.  Melakukan perjalanan dengan kelas ekonomi, dan bisnis, anda akan mendapatkan kualitas layanan berbeda tidak peduli apakah itu pesawat udara, kapal laut, bis, atau kereta api.  Kita familiar dengan istilah ada uang ada barang.  Atau harga ngga bohong.  Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita bayarkan.

Terus apakah mungkin kita keluar dari arus mainstream tersebut. Bisakah kita menjalani hidup tanpa tekananan nilai-nilai materi atau mengikuti simbol kesuksesan lain?

Pernahkah anda menonton “Take me out Indonesia”, beberapa minggu lalu, saya meluangkan sedikit waktu dengan menonton beberapa episode Take me out Indonesia. Di dalam memilih pasangan, bagi perempuan pada umumnya, yang dilihat dari laki-laki adalah kemapanan, pekerjaan yang bagus.  Masalah tampang bisa diatur jikalau laki-laki tersebut mapan. Tentunya sudah sering kita mendengar hidup tanpa cinta saja tidak cukup.

Orang-orang yang menentang arus kebanyakan sering dianggap sebagai orang yang tidak realistis. Orang yang menolak menjadi dewasa.  Tak jarang orang yang mengikuti kata hatinya, harus menerima resiko tersisihkan dan terdiskriminasikan secara ekonomi. Namun tak jarang pula mereka bangkit, dan membuktikan bahwa mengikuti kata hati tidak selalu berarti menjadi orang yang tidak berkecukupan. Dan biasanya orang yang mengikuti kata hati dan memenangkan pertarungan dengan kesuksesan seperti halnya menurut standar mainstream merekalah orang-orang sukses sejati.

Saya termasuk orang yang tidak mengikuti jalur mainstream.  Tantangan yang hadapi? Tidak terhitung jumlahnya, tetapi satu hal yang membuat saya bangga dan terus tersenyum adalah, bahwa saya melakukan sesuatu yang saya impikan. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan di dalam hidup selain menjalani apa yang kita sukai. Dan kata yang paling ampuh, bahwa, saya baik-baik saja.  Mengikuti kata hati terkadang tidak seburuk yang kita bayangkan.

Saat ini anda mungkin tengah duduk dibelakang meja kantor menyelesaikan pekerjaan akhir tahun.  Dan mungkin nantinya sesampai di rumah anda akan merenungkan capaian anda selama tahun ini. Jangan lupa untuk menambahkan satu pertanyaan, apakah anda berada di jalur yang benar, apakah pekerjaan yang anda lakukan atau kehidupan yang sedang anda jalankan adalah hal yang anda inginkan?

Jika anda menemukan jawabannya, jangan takut untuk mengikutinya. Dengarkan kata hati, percayalah hati kecil anda tidak akan pernah salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s