Good service comes with great amount

BaliRumah Sakit SOS identik dengan tempat berobatnya orang “bule”, orang asing, atau ekspat.   Rumah sakit dengan layanan internasional, dan tentunya tidak murah.  Tak jarang jikalau ada orang Indonesia yang berobat kesana, umumnya orang tersebut sudah terhubung dengan” keluarga “ Internasional, baik melalui perkawinan atau dikarenakan pendidikan dan pekerjaan.   Harga berobat kesana tentunya agak lebih mahal dibandingkan rumah sakit bagus lainnya.

Saya berkunjung ke SOS pertama kalinya ketika saya hendak melakukan perjalanan ke luar negri dan harus mendapatkan vaksin ini dan itu.  Sebagai rumah sakit dengan layanan internasional, hampir sebagian vaksin dapat diakses di rumah sakit tersebut.  Pada saat itu saya tidak khawatir karena seluruh pengeluaran akan ditanggung oleh perusahaan.  Beberapa tahun berlalu.

Minggu ini saya sedang melakukan kunjungan tugas ke Bali. Di hari pertama saya datang ke Bali saya mendapatkan tanda-tanda bakal terserang flu. Dan ternyata benar, flu tersebut semakin parah.  Kepala saya barat, badan saya lemas, ingusan, dan batuk yang tak kunjung henti. Memasuki hari ke-4 saya putuskan untuk berobat.  Pertanyaannya, kemana? 

Saya sudah sering berkunjung ke Bali tetapi tidak pernah mengunjungi rumah sakit.  Akhirnya saya putuskan ke SOS alasan utama adalah karena rumah sakit itu terletak tak jauh dari hotel dimana saya menginap.

Saya datang dengan taksi. Ketika melangkah menuju pintu masuk, seorang satpam berjalan menghampiri dan menanyakan keperluan saya.  Saya tidak melihat satpam tersebut menghentikan orang lain, kenapa saya, apakah karena saya berkulit gelap? Saya tidak ambil pusing.  Ketika melangkah masuk resepsionis segera melayani saya dengan ramah.  Setelah memasukan data-data saya, kemudian dia mengkonfirmasi kalau 400 ribu adalah biaya konsultasi dokter yang akan saya bayar diluar obat.  Fair juga.  Dan saya menyukai kalau biaya tersebut dikonfirmasi diawal.  Saya hanya mengangguk. 

Dokter segera memeriksa keadaan saya. Pelayanan ramah dan bersahabat. Dia menjelaskan kemungkinan-kemungkinan penyebab sakit yang saya alami.   Jikalau ini tersumbat, maka dampaknya adalah ini.   Diapun mengeluarkan beberapa alat untuk mengukur tensi, detak jantung, telingan, dll.  Analisa dia ditutup kalau flu saya adalah flu biasa, dan mungkin disebabkan karena kecapekan.   Setelah dia mengkomunikasikan kepada saya, obat apa saja yang akan dia berikan, dia jelaskan alasannya, dan dia jelaskan manfaatnya.  Berbeda dengan dokter-dokter di rumah sakit lainnya, biasanya mereka akan langsung menuliskan, dan sering pasien tidak pernah tahu jenis obat apa yang mereka minum.

Ketika nama saya dipanggil untuk menebus obat, petugas counter mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris, namun kemudian dia menyadari sesuatu  dan bertanya “Speak Indonesia?” Saya hanya tersenyum dan mengangguk.  Kemudian dengan detail dia menjalaskan jenis obat, aturan makan, tanggal expired.  Petugas tersebut masih muda, cara dia menjelaskan dalam bahasa Indonesia kesaya sama halnya seperti cara menjelaskan sesuatu kepada orang asing yang baru bisa berbahasa Indonesia.  Saya hanya diberikan tiga jenis obat.  Total biaya yang saya keluarkan di rumah sakit SOS tersebut untuk sakit flu ringan yang saya alami adalah sekitar 950ribuan lebih, kurang sedikit dari 1 juta.  1 juta untuk sebuah flu ringan apakah saya gila?

Sedikit bodoh mungkin, tetapi harga tersebut sesuai dengan pelayanan yang diberikan.  Kadang saya merasa tingkat kesembuhan pasien di Indonesia akan lebih tinggi jikalau pasien diperlakukan dengan ramah dan santun. 

Di banyak rumah sakit di Indonesia, tak sedikit jumlah perawat, petugas rumah sakit, bahkan dokter itu sendiri yang memperlakukan pasien dengan ketus.  Iya, jikalau saya punya uang, saya akan memilih untuk membayar lebih mahal, namun mendapatkan layanan yang bagus.  Tetapi saya tidak memiliki banyak cukup uang, saya hanya beruntung bekerja disebuah perusahaan yang memberikan tunjangan kesehatan yang memadai. Pengeluaran saya diatas nanti akan digantikan.  Tetapi bagaimana dengan jutaan orang lainnya di Indonesia?  Terutama untuk orang-orang yang tidak bisa mengkases rumah sakit swasta berkualitas, bagaimana dengan orang-orang yang hanya bisa mengakses layanan rumah sakit umum, pantaskah mereka dijuteki, diperlakukan kasar, setelah berdiri antri ber jam-jam?  Tentunya pemerintah Indonesia masih dalam proses yang panjang untuk mampu menciptakan kenyamanan dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s