Hidup adalah Kompromi

Seorang teman datang berkunjung ke rumah saya tadi pagi dan dia menceritakan beberapa capaian materi yang sudah dia raih. Dia masih muda, baru berusia 27 tahun, berprofesi sebagai dokter dan masih single. Di usia muda segitu dia sudah memiliki dua petak tanah, dua buah mobil, dan menyewa rumah seharga 12 juta per bulan.  Dia datang ke rumah saya dengan mobil barunya.

Sukses itu kalau memiliki banyak materi

Dia bercerita kalau zaman sekarang kesuksesan dinilai secara materi.  Penghargaan orang sering tergantung dari jenis kendaraan yang kita pakai. Dia menceritakan kalau dia tidak begitu membutuhkan mobil, dia nyaman berkendaraan dengan motor, namun, sebagai dokter muda, orang tidak akan menanggapi dia dengan serius jikalau dia datang ke klinik atau berkunjung ke rumah pasien hanya dengan sepeda motor. Dengan mobil orang akan menganggapnya sebagai dokter sukses. “Sugesti” begitulah dia menyebutnya.  Menurut dia mobil yang dia beli dengan kredit adalah investasinya.

Bukan sekali ini saya mendengar kalimat seperti ini. Saya pernah memiliki teman bekerja di perusahaan marketing, sekitar 3 tahun yang lalu, dia membeli mobil honda jazz karena menurut dia orang akan lebih menanggapinya ketika dia datang dengan Honda Jazz dibandingkan jikalau dia datang dengan taksi.  Atau anda juga mungkin pernah mendengar seorang Manager mengkedit mobil yang mungkin sedikit diluar jangkauannya hanya dikarenakan tidak mau kalah dengan bawahan.

Kerja, bukan lagi mengerjakan hal yang kita cintai, tetapi mencari uang sebanyak-banyaknya

Materi. Materi. Materi. Kenapa kesuksesan tersebut harus didefinisikan dari jumlah uang dan kebendaan yang dimiliki?  Sehingga akhirnya sekarang hampir semua orang berlomba-lomba mencari penghasilan yang besar. Banyak orang yang akhirnya terjebak menjadi budak uang bukan dikarenakan ingin membuat diri mereka bahagia tetapi lebih karena ingin membuat orang-orang disekeliling mereka bahagia, misal orang tua. Sering, orang tua kita di Indonesia mendefinisikan kesuksesan anaknya dari harta benda dan pangkat yang dimiliki.

Banyak orang demi memenuhi harapan keluarga dan masyarakat tersebut berakhir dengan membeli rumah mewah dan besar yang mungkin sebenarnya dengan rumah yang lebih sederhana mereka tetap dapat hidup nyaman. Membeli mobil mewah lebih dari yang sebenarnya sanggup mereka bayar. Membeli barang-barang elektronik hanya dikarenakan memikirkan gengsi. Gengsi yang harus dibayar dengan mahal. Untuk membayar itu semua, banyak orang harus bekerja dari pagi hingga malam tak jarang juga bekerja di Sabtu Minggu.  Membahagiakan orang pastinya akan membuat kita bahagia, tetapi perlu anda ketahui kalau memuaskan keluarga dan masyarakat tidak akan pernah ada ujungnya.

Gengsi memang penting, namun anda juga jangan takut menjadi pribadi sederhana. Orang-orang yang kuat, memiliki percayadiri dan prinsip itulah sebenarnya orang yang seharusnya disebut sukses.

Uang yang banyak, nilai mahal yang dibayar

Balik lagi ke teman saya yang dokter tadi, dia memang memiliki banyak materi, teman-teman dia sering memuji kesuksesannya, tetapi dia tidak terlihat bahagia. Untuk mendapatkan itu semua dia harus bekerja siang malam bahkan sabtu minggu. Dia bahkan tidak lagi memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Terlepas dia mengaku tidak terlalu bahagia, dia tetap menasihati saya agar mengikuti dia yang lebih sukses. Dia menasihati saya agar lebih serius bekerja “Jangan jalan terus. Jangan mau dibayar murah atau carilah pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Dewasalah. Dan sebagainya”

Setelah teman saya tersebut pergi, saya merenungkan ucapannya. Hidup itu sudah ada jalannya.  Kita kuliah, lulus, bekerja, menikah, punya anak, bekerja lebih keras, pensiun. Menurut teman saya, hobi jalan saya bisa dipenuhi ketika nanti saya sudah pensiun.

Saya membenarkan apa yang dia bilang, iya, kadang sebagai manusia dewasa kita harus hidup dengan aturan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Namun apakah salah jikalau kita memilih pengalaman, perjalanan, dan ilmu dari pada rumah, mobil, dan harta benda lainnya. Satu lagi, bukankah kuliah itu seharusnya untuk menuntut ilmu, memperkaya wawasan kita, dan bekerja itu adalah masa dimana kita mengamalkan semua ilmu kita? Kenapa sekarang definisi kerja harus dirusak dengan kalimat bahwa bekerja tersebut adalah untuk mencari uang, uang yang semakin banyak semakin baik….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s