Momo dan Si Pencuri Waktu

imagesTeman, Sahabat,  mereka ibarat sebuah tonggak yang bisa menyangga kita sehingga kita dapat terus berdiri kokoh, kuat, meski hujan deras, angin kencang dan badai menerjang.  Teman, Sahabat, ibaratkan sebuah pil yang dapat menyembuhkan banyak penyakit tanpa harus pergi ke dokter dan membayarnya.

Sahabat… ibarat sebuah candu yang memberikan kita kekuatan dan ide jenius tanpa harus merasa was-was ketangkap polisi dan menjadi ketagihan karenanya. Sahabat dapat mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang rasanya tidak mungkin kita lakukan.  Sahabat membuat kehidupan penuh warna dengan canda, tangis, gelak dan tawa.

Ah… siapa yang tidak membutuhkan sahabat di Dunia ini? Demikian banyak manfaat dari seorang sahabat, apa jadinya hidup jikalau anda tidak memilikinya? Bagaimana jikalau sahabat itu pergi? Akankah persahabatan itu abadi? Akankan persahabatan terus utuh terlepas dari jarak dan waktu?….

Pernahkah anda membaca sebuah Novel berjudul Momo karya Michael Ende?  Gambaran umum mengenai  novel tersebut adalah sebagai berikut. Di suatu kota kecil hidup seorang gadis kecil bernama Momo, momo tidak memiliki orang tua dan asal usulnya juga tidak jelas.  Momo tidak bisa membaca, berpenampilan lusuh, tetapi dia memiliki kemampuan ‘mendengar’ yang baik. Dia mendengarkan semua cerita dan keluh kesah tetangganya dengan sabar.  Dia hanya mendengarkan. Mendengarkan dengan sangat baik. Dia tidak memberikan nasihat atau masukan, tetapi justru orang yang curhat itulah yang akhirnya menemukan solusi dari permasalahan mereka setelah mereka bercerita ke Momo.

Kemampuan momo yang luar biasa ini membuat momo makin dikenal oleh banyak orang di kota tersebut. Jikalau ada masalah, maka pergilah ke momo. Momo juga ceria, dia mencipatakan banyak permainan untuk teman-temannya, mereka bermain bersama, bergurau, tertawa, bahagia.  Namun semua ini di rusak dengan kedatangan tuan Abu-abu, The men in Grey.    Tuan abu-abu tersebut membeli waktu orang-orang di kota tersebut. Dengan bahasa lain, mereka memperkenalkan efisiensi dan efektifitas.   Sehingga duduk-duduk bercerita… adalah buang waktu.  Bermain… adalah buang waktu.  Duduk ngopi dan ngerokok ngobrol ngalor ngidul dengan tetangga adalah buang waktu. Buang waktu… Bodoh, padahal waktu tersebut bisa menjadi uang. Semua orang akhirnya berlomba-lomba untuk meningkatkan efisiensi. Semua orang berlomba-lomba untuk mencari uang, uang yang banyak, yang tidak pernah tahu kapan cukupnya.

Perekonomian di kota kecil tersebut melejit pesat.  Orang memiliki banyak uang. Rumah telah berubah dengan rumah bagus. Tetapi nilai-nilai sosial dan kekeluarga itu menghilang. Pertemanan dan nilai-nilai sosial menghilang.  Ibarat lagu Jessie J “Price Tag”, semua menjadi It’s all about the money, money… Orang tidak memiliki waktu lagi untuk orang lain.  Bahkan untuk sekedar berkunjung dan menyapa.

Saya merasa bagaikan si Momo. Tuan Abu-abu telah mencuri waktu teman-teman dan keluarga saya.  Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka tidak lagi memiliki waktu untuk mendengarkan cerita-cerita saya.

Beberapa tahun yang lalu, saya mengambil tindakan nekat. Saya berhenti dari pekerjaan yang sangat menjanjikan dan memilih berpetualang ke daerah-daerah terpencil.  At the moment when I quit my job, saya mendapat kelimpahan waktu.   Teman-teman saya mendorong  impian saya untuk berpetualang, tetapi lama kelamaan saya sadari bahwa mereka tidak lagi ada untuk mendengarkan cerita saya.  Mereka terseret arus kesibukan dan tuntutan pekerjaan di Ibu Kota, apalagi ditunjung oleh bertambahnya tahun dan pengalaman, karir mereka semakin meroket, mereka berkecukupan secara materi.

Ketika saya berkunjung ke kota setelah berbulan-bulan bepetualang di daerah terpecil pedalaman Papua, saya sadari kalau saya atau mereka bukan lagi orang yang sama. Saya menjadi sangat kaya dengan cerita budaya dan kekayaan alam negri ini, makanan pokok masyarakat desa, kesederhanaan, kesulitan hidup tanpa listrik tetapi saya ketinggalan perkembangan informasi dan tekhnologi. Banyak hal modern lainnya yang tidak saya ketahui.  Mereka berkembang maju ke depan seiring dengan pergerakan waktu, sementara, saya justru mundur ke belakang tergerus oleh perkembangan zaman.

Sahabat saya kembali menganjurkan agar saya pindah ke kota, agar saya kembali mencari pekerjaan dengan gaji yang layak saya dapatkan, bukan berpetualang dengan misi sosial mulia dengan uang seadanya yang semuanya itu tidak nyata.  Orang tua dan kakak saya juga berkata sama.  It’s all about the money. Apa yang kamu dapatkan dari semua perjalanan tersebut?

Ah.. ternyata, Novel Momo yang ditulis di German di awal tahun 70an sangat relevan dengan keadaan Indonesia di zaman sekarang.  Tuan Abu-abu telah berhasil mencuri waktu semua orang dengan memberikan imbalan berupa materi, dan orang menjadi tergantung dengan reward yang diberikan oleh tuan abu-abu tersebut.  Keserdahanaan menjadi suatu kerendahan, yang semua konsep mengenai kebaikan cukup di ketahui tanpa harus dikerjakan.

Semenjak lulus kuliah, yang kurang lebih 7 tahun yang lalu, saya telah jalan sendiri, bukan jalan kebanyakan yang banyak dipilih orang. Saya telah menjelajahi Indonesia dari Sabang hingga Merauke, mempelajari keaneka ragaman budaya dan suku, menetap di banyak tempat,  dan saya jatuh cinta dan mengagumi kekayaan negri ini. Negri yang indah, namun apa dikata, keramahan dan nilai-nilai luhur masyarakat ini akan terkikis oleh roda-roda pembangunan, kapitalisme dan globalisasi.

Saat ini saya masih bertahan dengan apa yang saya yakini, hidup adalah memberi dan berbagi, bukan mengambil dan terus mengambil.  Apakah setelah itu saya akan terseret arus pembangunan modern dan mendewakan uang, saya tidak tahu? Pengaruhnya begitu kuat. Tekanan kiri dan kanan. Saya merasa kecil. Saya merasa tidak berdaya.

Ah Tuan Abu-abu, engkau telah menang, saya telah kalah.  Tetapi adapun demikian, saya kalah setelah berjuang, saya puas dan bangga dengan semua capaian dan perjalanan yang sudah saya lakukan.

Tuan abu-abu, ternyata sahabat ibarat candu, saya merasa tak berdaya tanpanya.  Seandainya kamu mau mengembalikan waktu yang kamu curi. Seandainya saya bisa menghentikan waktu…. Tentu sahabat saya akan kembali.

Tetapi lagi-lagi saya tidak berdaya… kekuatanmu terlalu besar tuan abu-abu… saya hanya bagaikan sebutir debu yang tidak bisa melawan arus pembangunan ini.

Mungkin seiring dengan pergerakan waktu, seiring dengan semua perubahan, saatnya saya juga bergerak berubah, mungkin sudah saatnya saya mencari sahabat baru, sahabat yang memiliki banyak waktu seperti saya, sahabat yang masih belum mau berbisnis denganmu tuan abu-abu, sahabat yang akan mendengarkan cerita-cerita saya, dan bersama, kami akan melawanmu tuan abu-abu… hidup lebih dari sebuah efisiensi dan efektivitas… hidup tidak selalu mengenai uang, hidup bukan haus akan pangkat dan jabatan, hidup adalah toleransi, berbagi, membantu, ada untuk orang lain, menjadi diri yang lebih baik…

Ah momo, saya membutuhkan kehadiran mu melawan tuan abu-abu..ah dimanakah sahabat itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s