Perjalanan ini….

Saya memiliki seorang ponakan yang berumur 3 tahunan. Bermain bersamanya membuat saya tertawa riang, hati senang, pikiran tenang.  Ponakan yang lincah, pintar dan lucu, ponakan yang sering saya tinggalkan karena tantenya ini adalah seorang pengembara yang selalu bepergian.

Melihat dia tumbuh menjadi besar, mengingatkan saya betapa cepat waktu berlalu.  Ponakan kecil itu, adalah anak dari kakak saya.  Kakak saya sekarang sudah menjadi seorang ibu. Dia sudah disibukan dengan pemikiran dewasanya membangun keluarga kecilnya yang bahagia dan berkecukupan. Dia bukan lagi kakak yang saya kenal 10 tahun yang lalu. Waktu berlalu, dan waktu telah merubah semuanya.

Lucu. Di sisi anak kecil 3 tahun inilah saya belajar mengenai menjadi dewasa.  Ternyata untuk seorang perempuan di usia akhir 20an yang sudah menjelajah banyak tempat, saya masih berfikiran kekanakan dan naif.

Apa itu dewasa? Dewasa adalah ketika kita bisa meredam emosi.  Ketika kita bisa berfikir menggunakan logika bukan meledak-ledak dan impulsif.  Dewasa ketika kita bisa melihat dunia lain di luar dunia yang kita kenal. Dewasa adalah ketika kita bisa mendengarkan pikiran dan pandangan orang lain. Dewasa adalah ketika kita jiwa ini tidak lagi bergejolak, tetapi bisa tersenyum dan tenang dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Menjadi dewasa adalah tidak menjadi egois, memiliki toleransi, dan menjalani kehidupan dengan tenang… Menjadi dewasa adalah menjadi arif, bijak, dan memiliki pendirian.

Orang bilang kalau waktu akan menyembuhkan.

Orang bilang kalau waktu akan mendewasakan.

Kedewasaan ini, apakah produk dari jarak dan waktu? Benarkah waktu, engkau sehebat itu? Benarkah kau sehebat seperti yang digambarkan?

Dimana semua kegelisahan masa remaja dulu?

Dimana semua sifat pemberontakan dulu?

Dimana semua amarah?

Waktu, kau telah merubah segalanya. Kau telah merubahku.

Waktu, kau telah menjadikan aku lebih dewasa. Kau telah meneduhkan hujan badai. Kau telah menenangkan gelombang pasang di dada ini, tetapi kau juga telah membuat kaki ini berhenti melangkah….

Dimana kekuatan itu. Dimana gejolak itu. Dimana semangat membara. Dimana sifat ksatria. Dimana jiwa pahlawan….

Waktu, kau telah merubah zaman. Kau merubah nilai-nilai. Kau merubah peradapan.

Sekarang, kau bujuk aku dengan seorang ponakan mungil, lugu, pintar, menggemaskan. Ponakan yang membuat aku kehilangan minat untuk kembali mengepak tas, memasang sepatu dan melangkah pergi menjelajahi alam semesta ciptaan yang maha agung ini. Kaki ini beku. Kaki ini tidak lagi bisa bergerak. Bara di hati juga sudah padam. Dan jiwa pahlawan yang selama ini aku banggakan perlahan juga mati dihisap habis oleh roda waktu.

Apa yang kau cari?

Apakah canda tawa ini tidak cukup?

Apakah semua yang kau miliki ini tidak cukup?

Kau tidak kekurangan, yang kau butuhkan hanya menggantungkan sepatu dan berhenti berjalan…

Lihatlah, dunia telah berubah. Lihatlah segala sesuatunya tidak lagi sama.

Kembalilah… pulanglah…

Cinta… cinta itu ibarat buah simalakama. Dia menawarkan rasa manis dan juga pahit.  Rasa yang silih berganti. Cinta bisa menjadi benci, benci bisa menjadi cinta. Cinta bisa menjadi kelemahan. Cinta bisa menjadi kekuatan.

Pastinya… cinta itu sekarang membuat saya menjadi lemah.

Saya telah berjalan terlalu cepat…

Saya butuh untuk melambat, berhenti…

Iya tuan waktu. Saya sekarang berhenti. Saya sudah menginjak rem dari perjalanan panjang selama 7 tahun ini.  Sekarang saya diam. Saya berfikir, berefleksi, dan menimbang semua kekalahan dan kemenangan dalam hidup ini….

Apakah saya telah kalah…..

Apakah saya telah menang….

Hanya saya yang bisa menjawabnya……

Ah, sebentarlagi saya akan memasuki babak usia baru. Usia yang tidak lagi bisa dibilang muda…..waktu, saya baru sadar kalau kamu berjalan begitu cepat… kamu terus melangkah maju tanpa bisa dihentikan…

Ponakan saya beberapa tahun yang lalu masih bayi…Beberapa tahun yang lalu dia masih belum bisa berjalan…Dia belum bisa berbicara, dia belum bisa bernyanyi…

Lihatlah dia sekarang…. Dia begitu lincah.

Dia bernyanyi dan menari. Dia berlari kesana dan kemari.

Saya menghentikan langkah ini, hanya bisa menghabiskan waktu bersamanya…

Saya tahu, satu tahun lagi, dia akan beranjak dewasa….Dia tidak lagi menjadi sosok lucu seperti dia yang sekarang….

Saya menggantungkan sepatu, juga agar bisa menghabiskan waktu.  Menemani orang tua yang sekarang tidak lagi muda. Saat ini mereka sehat dan bugar, tetapi tuan waktu akan merubah semuanya.

Tahun depan, rumah ini, rumah dimana saya menghabiskan masa kecil pastinya akan berubah. Kakak saya bersama keluarga kecilnya akan pindah ke rumah barunya.  Adek saya, setelah perjuangan panjang dan hampir di DO akan memulai petualangannya.  Rumah ini akan sepi. Waktu telah merubahnya….

Jika anda adalah pengembara seperti saya, ada baiknya juga berhenti. Menarik nafas menghitung apa yang sudah anda capai. Berhenti… agar bisa menikmati waktu bersama orang-orang yang anda cintai.  Berhenti untuk membuat peta baru. Berhenti untuk menyusun target baru. Berhenti untuk bersyukur. Berhenti untuk berpuas dengan banyak hal yang sudah anda raih. Berhenti untuk mengumpulkan tenaga. Berhenti untuk berbagi cerita. Karena….. waktu tidak pernah bergerak mundur. Waktu tidak pernah jalan ditempat.

Saya telah kalah dan saya telah menang. Dan saya akan terus bergerak maju tidak peduli kalah atau menang…….

Iya, saya akan melangkah maju.  Saya akan terus berjalan…

Tetapi untuk saat ini, saya akan merapatkan kapal, saya akan berlabuh, saya akan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang saya kasihi…

Ohhh ponakan keciku, betapa engkau telah mencuri hatiku…

12/7/2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s