Ngga ada salahnya belajar

Ini adalah artikel yang sudah lama ingin saya tulis. Namun dikarenakan kesibukan kerja artikel ini terus tertunda.   Anyway, saya merasa hal ini penting, so saya akan mencoba menuliskannya.

Berawal dari percakapan dengan seorang kawan yang tinggal di Amerika, laki-laki, sebut nama Tariq. Saya sedang di kantor dan skype saya lagi aktif. Dia say hi. Dikarenakan sedang istirahat makan siang- lagi bersantai, sayapun membalas, dan kamipun terlibat dalam percakapan singkat. Dia baru pulang dari rumah sakit mengantarkan temannya, cewek Indonesia yang sekolah di universitas yang sama dengannya. Dia bilang kalau teman Indonesianya ini positif terinfeksi virus HIV.

Cewek Indonesia tersebut, sebut Nita, berpacaran dengan pria Nigeria.  Mereka melakukan hubungan badan.  Si Cewek yang lugu, kalau dia akan baik-baik saja, secara hubungan seks yang dilakukan melalui anal. Si cewek merasa kalau hubungan seks tersebut aman, dan dia tidak kehilangan keperawanannya. Tetapi si cewek salah, tentunya tidak aman, karena sekarang dia sudah positif HIV.  Si cowoknya, orang Nigeria tersebut yang tahu kalau dia adalah penderita HIV tidak pernah memberitahu ceweknya ini.

Teman saya, Tariq, sangat geram dengan si cowok Nigeria tersebut. Dia kenal dengan cowok itu, cowok itu juga kuliah di kampus yang sama, dia tengah mengambil program PhD-nya.

Percakapan kita berlanjut.  Akhirnya kita setuju kalau pendidikan seks itu penting. Indonesia, negara timur dengan mayoritas Muslim, sangat tertutup mengenai diskusi seks. Seks itu dianggap sebagai percakapan yang tabu.  Dianggap ketidaktahuan lebih aman dan lebih baik, tetapi tentunya ini salah.

Tariq bercerita kalau Nita adalah perempuan baik-baik dan cerdas. Dia ramah dan sopan. Dia tidak genit dan sangat menjunjung tinggi adat ketimuran.  Nita belum pernah berpacaran, dan saat ini dia sedang menempuh study Phd.  Nita merasa kalau dia jatuh cinta benaran dengan cowok Nigeria ini. Mereka juga menganut keyakinan yang sama.  Nita bilang kalau dia dan cowok Nigeria ini berencana untuk serius dan menikah, hanya saja karena kesibukan kuliah, hal tersebut terpaksa ditunda.

Tariq bilang kalau cowok Nigeria ini memanfaatkan keluguan Nita.  Hanya saja, jikalau Nita pernah mendapatkan pendidikan seks, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tariq berkebangsaan Turki tetapi lama tinggal di Amerika dan dia pernah tinggal cukup lama di Indonesia, sehingga meski di Amerika, Tariq tetap berteman dengan orang-orang Indonesia.  Tariq bersimpati kepada Nita, dan tidak tahu bagaimana masa depannya nanti. Jikalau saja hal dia tidak terperdaya, dia tentu memiliki masa depan yang gilang gemilang.

Kembali Tariq melanjutkan kalau dunia saat ini nyaris tanpa batas. Dalam artian, sangat mudah bagi generasi sekarang untuk bertemu orang dari berbagai suku bangsa di dunia. Orang-orang tersebut memiliki pandangan hidup dan adat istiadat berbeda.  Mereka juga datang membawa berbagai macam penyakit.  Salah, jikalau orang Indonesia mengira kalau hal ‘asing’ tersebut adalah bagian ‘terpisah’ dari hidupnya. Dan salah, kalau orang Indonesia tidak mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan memadai. Pengetahuan tentang seks adalah salah satunya. Kadang orang membuat kesalahan, and when it comes to sex, akibat bisa fatal.

Hampir semua ajaran agama, tidak ada yang mempromosikan seks bebas, tetapi untuk zaman saat ini, ‘larangan’ dan kalimat ‘tidak’ tidak cukup.

Pendidikan seks bukan untuk mempromosikan seks. Tetapi pendidikan seks akan membuat orang lebih cerdas dan lebih bijak, dan malah akan berani berkata tidak.  Banyak dari orang Indonesia yang tidak mengerti mengenai seks. Seks adalah kata tabu, dan hanya boleh dibicarakan kalau sudah menikah.

So, saya dan Tariq sependapat jikalau anda memiliki waktu luang, ada baiknya anda memperluas wawasan mengenai seks.  Disini anjuran saya lebih bersifat ke yang bersifat pendidikan dan pengetahauan ya, bukan anjuran untuk mencari film bokep.

Saya teringat ketika saya melakukan perjalanan bersama dengan seorang teman Belanda, cewek. Dia sedang menyusun barang-barang di tas kecilnya.  Dan dengan iseng dia menyebutkan semua isinya: Kunci, gantungan tas, kondom, pil kontraseptif, dan dengan ringan bilang kalau you don’t know who you will meet.

Saya juga memiliki teman yang bersekolah di Australia, sebut Anto.  Anto bilang kalau di Australia sering ditemukan kasus kehamilan mahasiswa Indonesia. Justru kasus kehamilan yang tidak diinginkan di mahasiswa Australia sangat kecil.  Menurut analisa teman saya, kadang orang Indonesia tidak tahu harus bersikap ketika dihadapkan pada lingkungan yang bebas. Keabsenan pengetahuan telah mengantarkannya ke situasi bencana.  Jikalau di Indonesia, mungkin gampang bagi orang Indonesia untuk berkata tidak, tetapi jikalau dihadapkan dilingkungan dengan budaya seks berbeda, ditambah faktor psikologis seperti kesepian, adaptasi di tempat baru, jauh dari teman dan keluarga, mahasiswa Indonesia menjadi rentan.

Kembali ke Nita. Kasus Nita membuat saya tersadar kalau kejadian buruk bukan berarti orang tersebut buruk. Nita ibarat jatuh dan tertimpa tangga. Mungkin orang yang berperilaku bebas bahkan sangat bebas tidak menghadapi permasalahan seperti yang dia hadapi sekarang.

Bagaimana dengan anda, apakah anda pernah memiliki teman atau mendengar cerita yang serupa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s