Lensa Kehidupan

“Mau ngga kita nambah stay di Bali, extend?” Suara mba Tika terdengar bersemangat dari seberang telfon. Dia sedang di Bandara Adi Sucipto Hendak terbang ke Makasar. Ditengah kesibukannya yang tinggi dia menyempatkan menelfon Jenny.

Tika dan Jenny akan berada di Bali untuk urusan kantor masing-masing di tanggal yang sama. Suatu kebetulan. Dan Tika mengusulkan agar mereka menambah stay setelah urusan pekerjaan mereka kelar sehingga mereka bisa jalan-jalan. Mereka sudah berteman lama, dan sudah sering melakukan perjalanan bersama, baik yang direncanakan maupun secara kebetulan.

Jenny berfikir sejenak, baru kemudian menjawab “Bukannya kita sudah beberapa kali jalan-jalan ke Bali? Hampir semua objek wisata sepertinya sudah kita datangi kan?”

“Tapi ini Bali Jen. Kita bisa mengunjungi tempat yang sama, tetapi rasanya tidak akan pernah sama, selalu ada yang berbeda dan yang menarik. Lagian kita kan pergi dengan motor, kita bisa berhenti dimanapun jika kita melihat sesuatu yang menarik” Tika meyakinkan Jenny. Tika sedikit bingung kok bisa-bisanya Jenny menjawab seperti itu, bukankah Jenny terlahir kedunia untuk jalan-jalan? Dulu dia selalu berkata kalau hidup itu adalah petualang. Dan berpetualang bukan masalah destinasi, tetapi lebih ke proses, perjalanan itu sendiri. Jenny yang selama ini dikenalnya akan melakukan apapun untuk bisa jalan-jalan, dia tidak segan untuk mengeruk tabungan demi jalan-jalan.

Jenny kembali diam. Berfikir sedikit lebih lama dari sebelumnya. Mba Tika benar. Banyak hal menarik yang bisa dilihat di Bali. Bali bukanlah sekedar tanah lot, pantai kuta, gunung batur dan seterusnya. Tetapi setiap sudut di Bali akan selalu menarik untuk dikunjungi. Karena kita juga akan bertemu dengan masyarakatnya. Berkendaraan dengan motor kemudian berpapasan dengan perempuan yang mengenakan kebaya dari pura hanya bisa ditemukan di Bali. Tidak hanya perempuannya yang menarik, lelakinya juga, mengenakan busana tradisional khas Bali membuat mereka terlihat berbeda. Bentuk awan, besarnya ombak, warna langit, dan bentuk sunset tidak akan pernah sama di Tanah lot atau di Pantai Kuta. Lagian, selain tempat wisata populer dan banyak dikunjungi orang Bali juga memiliki banyak atraksi lainnya, atraksi yang masih alami yang masih jarang dikunjungi, yang akan membuat kita berdecak kagum dan mensyukuri karena keindahan alam ini masih milik Indonesia.

“Gimana, mau kan?” Suara Tika terdengar tidak sabaran.

Dia menambahkan. “Ayo cepetan, aku sudah dipanggil masuk pesawat nih, dan aku butuh jawaban segera, soalnya aku harus mengatur waktuku”

“Ok” jawaban itu langsung keluar.

“Sip, sudah dulu ya, sampai ketemu di Bali dua Minggu dari sekarang” Tika menutup telfon.

Jenny kembali menarik nafas. Ada apa dengan dirinya? Kemana semangat petualangnya?

Mungkinkah bertambahnya usia telah merubahnya? Atau kehidupan kota besar telah merubah cara pandangnya?

Jenny selama ini nyaman dengan hidupnya. Dia tidak khawatir dengan masa depan. Dia tidak memiliki banyak keinginan dalam hidup. Tujuan hidupnya sederhana,hidup cukup, jalan-jalan dan bermanfaat bagi orang lain. Tetapi belakangan dia kembali memikirkan tujuan tersebut. Benarkah itu semua cukup? Bagaimana dengan apartemen, mobil, pekerjaan tetap, asuransi, tabungan dan sejenisnya.

IMG_1765Karena naluri petualangnya, Jenny tidak mau mengambil pekerjaan tetap. Karena pekerjaan tetap hanya akan membuat dia terikat. Dia cukup beruntung karena dia bisa bekerja di Perusahaan asing yang memberikannya cuti sebanyak 22 hari dalam setahun, sedangkan jika dia bekerja di perusahaan dalam negri dia hanya akan mendapatkan cuti sebanyak 12 hari dalam setahun.   22 hari saja bagi Jenny tidak cukup, apalagi 12 hari. Sayangnya 22 hari juga tidak bisa diambil sekaligus. 22 hari harus diambil bertahap, maksimal yang bisa dia ambil dalam satu kali cuti hanya satu Minggu. Satu Minggu? Bagaimana mungkin bisa melakukan petualangan ke pedalaman Papua selama satu Minggu? Atau bagaimana mungkin dia bisa menjadi turis backpack ke India selama satu Minggu? Satu Minggu tidak cukup. Akhirnya Jenny mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tabungan hasil kerjanya selama bertahun-tahun dia habiskan untuk jalan-jalan. Ketika uangnya kembali menitip, dia kembali bekerja. Dan begitu seterusnya. Dan dia telah melakukan itu selama hampir sepuluh tahun. Tetapi dia dulu muda, dan gesit. Dia dengan mudah mencari kerja dan meninggalkannya. Dia selalu memiliki cukup uang untuk jalan-jalan. Sekarang sudah berbeda. Dia sudah menginjak kepala tiga. Dan ini membuat dia takut. Generasi muda terus bermunculan, mereka tidak hanya pintar dan gesit, mereka juga bersedia dibayar lebih murah, bagaimana mungkin Jenny bisa bersaing dengan mereka. Dia merasa ini adalah saatnya untuk dewasa. Beberapa tawaran jalan-jalan sudah dia tolak. Dia meredam hasrat jalan-jalannya. Mending uangnya ditabung.

Tetapi ternyata Tika berhasil merubah fikirannya.

“Ah masa bodoh, Bali tunggu aku”. Jenny bergumam pelan.

***

Jenny menginap di hotel kecil di daerah Sanur.   Meski fasilitasnya sederhana tetapi hotelnya persis di dekat pantai, dari dalam kamarnya dia bisa mendengar jelas suara ombak. Dia harus merogoh kocek 250 ribu per malam, padahal kamarnya hanya menggunakan Fan. Tetapi ya sudahlah, setidaknya dia masih mendapat sarapan.

IMG_1627Restoran hotel pagi itu sepi. Hanya terlihat petugas hotel dan satu orang turis asing. Jenny memesan nasi goreng dengan telur ceplok dan satu cangkir kopi panas. Petugas hotel melayaninya dengan ramah.

Dia tengah membalas sms Tika, ketika turis asing yang tadi dia lihat, duduk disebelah mejanya dan menyapa ramah.

“Halo, how are you?”

“I am fine. How about you?”

Mendengar Jenny membalas sapaannya dalam bahasa Inggris, turis tersebut menjadi bersemangat. Diapun bercerita mengenai dirinya. Dia sudah tiga bulan tinggal di Bali. Dia berasal dari Denmark. Dia mengatakan pada Jenny kalau dia sangat suka Bali. Dan dia berharap kalau dia bisa tinggal lebih lama. Dia menanyakan kalau apakah Jenny bisa mencarikannya pekerjaan, atau mungkin mengetahui informasi bagaimana cara dia bisa menjadi guru bahasa Inggris di Bali. Jenny menjawab kalau dia tidak tahu, dia tidak bisa membantu.

Iseng Jenny bertanya kenapa dia mau tinggal di Indonesia sedangkan banyak orang Indonesia malah berharap bisa tinggal di negara Eropa, apalagi negara seperti Denmark. Turis yang mengaku bernama Krishna (tetapi berkulit putih dan berambut pirang) mengatakan kalau yang dia suka mengenai Bali adalah senyum dan keramahannya, hal yang tidak dia temui lagi di negrinya, dan dia juga suka dengan spiritualitas masyarakatnya. Dia mengatakan kalau di Denmark orang-orang telah membunuh tuhan, dan orang-orang lebih memikirkan diri mereka sendiri.

Jenny menggeleng kepala, hidup itu memang ironis. Orang yang tinggal di negara berkembang ingin merasakan hidup di negara maju, dan sebaliknya banyak juga orang di negara maju ingin hidup di negara berkembang. Di Indonesia, bahkan dirinya sendiri, suka sebel kenapa sih orang Indonesia rese banget mengurusi orang lain bukannya mengurus diri sendiri, seperti ngga ada kerjaan lain saja. Sebaliknya Krisna malah mengeluhkan kalau masyarakat di Negrinya tidak lagi peduli dengan orang lain dan hanya mengurus diri mereka sendiri.

Percakaan ringan dengan Khrisna sedikit membuka matanya. Bahwa hiduplah saat ini, jangan mengkhawatirkan masa depan. Tidak ada kehidupan yang sempurna. Dengan pilihannya sekarang Jenny tidak pernah hidup kekurangan, kebutuhannya tercukupi. Dia memang tidak punya rumah, tetapi dia masih bisa tinggal dengan membayar sewa. Dia tetap merasa kalau memiliki rumah penting, dan dia membayangkan rumah sederhana, rumah yang pasti bisa dia beli, hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan dia tidak ingin menghentikan hobby jalannya, begitu banyak pelajaran hidup yang dia dapatkan selama ini dalam setiap perjalanannya. Pelajaran yang membuat dia bersyukur, yang membuat dia memiliki kepedulian sosial, dan membuat dia menjadi lebih bijak.

Dia mengakhiri obrolannya dengan Khrisna ketika Tika menghampiri mejanya. Tika tinggal di rumah sahabatnya. Dia memiliki teman dimana-mana, hanya saja rumah teman Tika sempit, teman Tika juga memiliki banyak anak, sehingga Jenny tidak bisa ikut menumpang disana, lagian Jenny juga belum kenal.

“Bagaimana, siap untuk memulai petualangan hari ini?” Tanya Tika tersenyum sambil menyerahkan helm.

Jenny menerima helm tersebut “YUP, Siap!!” dia menerima helm tersebut sambil tersenyum.

IMG_1619 IMG_1788 IMG_1785   IMG_1690

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s