Pulau Tidung di Kepulauan Seribu yang mempesona

Saya sudah mengunjungi banyak tempat indah di Indonesia tetapi saya belum pernah ke pulau Seribu. Padahal saya sudah mendengar banyak cerita kalau pulau Seribu juga tidak kalah indah dibandingkan dengan banyak pulau lainnya di Indonesia.

Hal ini membuat saya memantapkan niat untuk segera mendatanginya. Syukurlah salah seorang kawan kuliah saya, Anik, mau ikut. Saya sudah sering bepergian sendirian, tetapi menurut saya bepergian dengan kawan tetap lebih asyik. Anik menginap di tempat saya di Pasar Minggu. Pukul 4 pagi kami berangkat menuju stasiun pasar Minggu. Dari stasiun pasar Minggu, kami naik kereta jurusan kota. Tiba di Kota kami melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju ke pelabuhan muara angke. Sekitar jam 08.00 wib, kapal yang kami tumpangi berangkat menuju pulau Tidung. Kami berangkat di hari Sabtu pagi. Kapal penuh sehingga beberapa penumpang terpaksa duduk di luar. Kapal ini lebih dari setengahnya di isi oleh rombongan berbaju merah, mayoritas Ibu-ibu. Mereka sepertinya guru sekolah yang tengah berlibur. Baguslah.

IMG_0520Saya dan Anik memutuskan untuk duduk di luar. Udara di dalam agak pengap, sedangkan jika duduk di luar kami bisa melihat keindahan laut dan juga merasakan belaian angin laut di wajah. Tidak mudah menemukan tempat diluar, tetapi syukurlah akhirnya dapat juga. Kami membayar ongkos sebesar 40.000 per orang, katanya jika bukan weekend, harganya bisa lebih murah. Setelah kurang lebih tiga jam berlayar kami tiba juga di pulau Tidung. Saya terpukau melihat air yang berwarna hijau yang dikelilingi oleh hutan bakau. Saya dan beberapa penumpang kapal lainnya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan yang kami lihat. Saya dan anik melanjutkan Photo session di dermaga pulau tidung. Begitu kami keluar dari pintu dermaga kami melihat banyak pedagang makanan kecil. Tak jauh dari kios-kios kecil mereka terdapat kotak-kotak berwarna biru yang berfungsi sebagai toilet.

Sepertinya pengunjung yang lain sudah mereservasi penginapan. Sedangkan saya dan Anik belum. Kami berdua juga sama-sama belum pernah ke pulau seribu. Kami bertanya kepada tukang becak. Tukang becak tersebut, mengarahkan kami ke sebuah rumah, yang hanya berjarak beberapa langkah dari Dermaga. Kami diperkenalkan ke pemilik rumah. Kami dibawa ke sebuah paviliun kecil tepat di sebelah rumah utama yang memiliki dua kamar. Mereka tidak menyewakan per kamar, untuk paviliun tersebut si pemilik rumah meminta tiga ratus ribu. Di dalam ada AC, kipas angin, kulkas, dan juga kita diperbolehkan untuk mengakses dapur mereka. Hanya saja jaraknya terlalu dekat dengan dermaga dan kami tidak bisa melihat laut.

Saya dan Anik menginginkan kamar dengan pemandangan langsung menghadap laut. Kami minta izin untuk mencari kamar yang lain. Kami berjalan di bawah terik matahari, tetapi disemailah kanan kami laut membentang indah. Kami berhenti di warung kecil yang menjual nasi uduk. Kami membayar nasi uduk dan telur dua puluh ribu untuk dua piring. Harga yang masih wajar. Setelah makan kami kembali melanjutkan pencarian penginapan, dan kami menemukan kamar yang kami harapkan. Kamar yang persis di pinggir pantai. Tidak hanya itu, didepan kamar kami terdapat gazebo, dan kolam kecil yang berisi 5 ekor penyu (sisik) berukuran besar. Si pemilik membuka harga di 400 ribu rupiah per malam, kami menawar 300 ribu dan dia setuju. Kamar luas yang bisa diisi oleh enam orang.

Mumpung cuaca cerah, kami segera keluar, berjalan menyaksikan keindahan pulau seribu dari jembatan cinta. Warna langit dan air laut begitu mempesona. Keindahan alamnya jauh lebih bagus dari ekspektasi awal saya.

Kami pulang kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sore harinya kami snorkeling di dekat sekitar jembatan cinta. Ikan dan terumbu karangnya luar biasa indah. Malamnya kami membeli ikan bakar yang tak jauh dari penginapan. Agak cukup mahal, tetapi rasanya lumayan. Esoknya pagi-pagi sekali kami bangun untuk melihat matahari terbit. Ternyata bukan saya dan Anik saja yang ingin melihat matahari terbit, ternyata pengunjung lainnya juga. Jembatan cinta penuh dengan wisatawan domestik. Kebanyakan anak muda. Sepertinya pangsa pasar pulau seribu memang anak muda.

Kami kembali ke penginapan,dan sebelum meninggalkan pulau itu, memutuskan untuk kembali snorkelling, kali ini, kami berencana snorkelling di pantai di depan penginapan. Kami harus berjalan jauh hingga bisa mencapai bibir pantai. Dan ternyata snorkeling disana jauh lebih indah. Karangnya jauh lebih besar-besar dan ikannya lebih beragam, tetapi bahayanya juga lebih, karena kali ini kami snorkelling di laut yang hanya beberapa meter dari bibir pantai akan masuk ke laut dalam. Saya hanya berenang di pinggiran, dan saya puas dengan beragam ikan yang saya lihat.

IMG_0822  IMG_0761

IMG_0488 IMG_0716 IMG_0425 IMG_0597 IMG_0549 IMG_1001 IMG_0931_1 IMG_0908_1 IMG_0902_1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s