Follow your dream or work for money?

imagesSeperti yang anda baca, blog ini berjudul Rich Farmer. Terjemahan sederhana adalah petani kaya. Tetapi ketika saya membuat blog ini beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah memikirkan harta, ketika saya tuliskan kata kaya, penekanan saya pada waktu itu adalah “kaya” pengalaman. Tetapi sekarang, ketika saya sudah mendapatkan segudang pengalaman, mengunjungi banyak tempat yang saya impikan, sekarang saya dihadapkan kepada realita kehidupan “harta”, kekayaan yang lebih nyata, yang menjadi impian banyak orang selama ini.

Saya termimages2asuk orang yang beruntung, bisa dibilang sepanjang sejarah saya bekerja menjadi pegawai, saya memiliki gaji secara umum diatas rata-rata. Pastinya masih jauh kalah dibandingkan dengan pegawai BUMN, dan apalagi jika dibandingkan dengan karyawan diperusahakan minyak. Diatas rata-rata jika dibandingkan dengan gaji pegawai negri, atau karyawan perusahaan swasta nasional pada umumnya.

Kakak saya, yang gajinya hanya sepertiga dari gaji saya, memimpikan sebuah Honda Jazz. Dan dia juga bermimpi untuk memiliki rumah cantik, fancy, berukuran sedang. Sedangkan impian saya pada waktu itu adalah bepergian ke tempat-tempat yang jauh, asing, terpencil, tempat yang hanya tersaji di TV, tempat-tempat yang dijelajahi oleh para petualang.   Petualang, bahasa lain dari pengembara, bahasa lain dari orang-orang yang hidup di luar zina nyaman, orang-orang yang tidak memiliki banyak harta tetapi memiliki segudang pengalaman, saya memilih mengejar mimpi saya tersebut. Sebagian besar pendapatan saya, saya gunakan untuk membayar petualang-petualangan saya, dan juga membeli peralatan untuk mengabadikannya. Saya juga cukup pemurah dengan uang. Saya sering memberi ke banyak orang. Siapapun yang menurut saya layak diberi, meski tidak banyak, akan saya beri. Saya tidak pernah takut dengan berbagi. Sementara kakak saya menyimpan dengan sangat hati-hati setiap jumlah uang yang dia dapatkan.

Delapan tahun sudah berlalu. Kakak saya mendapatkan semua impiannya. Demi mencapai impiannya dia bekerja keras untuk bisa bekerja di BUMN dan meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta nasional. Dia memiliki rumah dan mobil lebih dari impian awalnya. Terus bagaimana dengan saya? Saya juga mendapatkan apa yang saya impikan. Saya memiliki petualang-petualang hebat yang selama ini hanya saya lihat di TV. Saya menjadi Indiana Jones. Saya memiliki pengalaman yang membuat saya bangga. Saya puas, kakak saya juga puas.

Tetapi tunggu dulu… Hidup tidak sesederhana itu. Pencapaian kakak saya diakui oleh banyak orang. Orang bisa “melihat” apa yang dia miliki. Sementara pencapaian saya tidak “terlihat” oleh orang. Gambaran sekarang adalah kakak saya hidup berkecukupan dan untuk itu dia mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Sedangkan saya tidak memiliki harta benda dan saya tidak mendapatkan simpati dari masyarakat. Saya kesulitan ketika mengajukan asuransi karena saya tidak pernah memiliki pekerjaan yang tepat, saya kesulitan melakukan perpanjangan kartu kredit, karena lagi-lagi status pekerjaan saya yang tidak jelas, saya tidak bisa mengajukan kredit KPR karena lagi-lagi saya tidak memiliki jaminan pekerjaan yang melambangkan kemapanan yang bisa dipakai oleh bank sebagai jaminan. Kemudian saya menyadari ternyata saya hanya seorang pengembara miskin yang status-nya tidak diakui di zaman modern, dunia kapitalis sekarang. Saya tidak pernah merasa miskin, karena saya selalu memenuhi kebutuhan saya, apapun itu. Bahkan saya juga masih bisa memberi ke orang lain. Tetapi menurut ukuran kesuksesan banyak orang, saya hanya seorang pengembara miskin.

Kenapa saya menuliskan ini? Saya menuliskan ini untuk sesama pengembara. Saya menuliskan ini untuk orang-orang yang juga memiliki visi hidup seperti saya, orang-orang yang melihat hidup lebih dari hanya untuk sekedar menumpuk harta, untuk mencapai kesuksesan karir dan juga fame, dan pengakuan orang. Saya menuliskan ini untuk mengingatkan ternyata hal tersebut tidak CUKUP. Bagi yang sudah terlanjur menjadi pengembara, meninggalkan pekerjaan reguler dan kehidupan regular, berpetualang mewujudkan mimpi, mereka pasti mengerti dengan apa yang saya rasakan, tetapi bagi yang baru memulai harap dipikirkan kembali.

Banyak artikel di blog, majalah, internet, yang akan menyarankan anda untuk melepaskan pekerjaan 9-5 anda, dan membayangkan betapa indahnya hidup di pinggir pantai, diatas gunung, mendaki mencari air terjun tersembunyi, dan banyak lainnya. Harpa fikir kembali sebelum anda melakukannya. Hidup menjalani mimpi memang menyenangkan tetapi kembali ke realitas hidup setelah terbangun dari mimpi menyakitkan.

Money_growth-300x216 Tetapi jika anda tetap memilih untuk berpetualang, pergilah. Tetapi sebelum itu, pelajarilah hal-hal terkait dengan manajemen keuangan. Iya, pengembara, petualang, traveller, backpacker, anda membutuhkan ini. Anda membutuhkan informasi mengenai Financial Management. Pastikan anda tidak menghabiskan semua uang anda untuk membiayai perjalanan-perjalanan anda. Usahakan agar anda menyisakan uang untuk membeli sebuah property, rumah, rumah yang merupakan milik anda sendiri, yang akan setia menunggu anda kembali dari setiap petualang anda. Anda membutuhkannya. Percayalah.

I’ve got everything that I need. Saya orang yang gampang puas. Saya tidak pernah menjadikan uang menjadi tujuan.   Saya bahagia dalam kesederhanaan. Impian saya hanya untuk hal-hal kecil, dan hal itu dengan mudah bisa saya penuhi. Saya menginginkan Macbook, saya mendapatkannya, demikian juga dengan Ipod. Saya masih punya keinginan, tetapi keinginan kecil yang masih bisa saya penuhi. Tetapi teman-teman saya mulai membuat saya menginginkan hal-hal lain, hal-hal yang lebih sulit saya dapatkan. RUMAH. Harga rumah di Jabodetabek ibaratkan langit, dan saya adalah bumi, tidak mungkin saya bisa menjangkaunya.

Gampang puas dan malas beda tipis. Semalam, beberapa teman saya mengingatkan “capaian” hidup saya dengan membandingkan saya dengan beberapa teman saya lainnya. Mereka menyebutkan sederet nama. Si A sudah memiliki apartemen. Si B sudah memiliki rumah. Si C memiliki rumah dan apartemen. Si D memiliki tanah. Terus apa yang saya miliki? Saya tidak memiliki apapun. Tamparan yang cukup telak. Mereka memulai karir sama dengan saya, pendapatan kita hampir sama, tetapi ketika karir mereka menanjak ke atas, saya malah jatuh ke bawah. “Saya bekerja bukan untuk uang, saya bekerja hanya untuk sesuatu yang saya inginkan” saya menjelaskan dirsunset-hiking-trails-1i. Saya melepaskan pekerjaan dengan gaji yang sangat layak, hanya untuk sebuah pekerjaan yang bergaji sangat murah, karena hal itu membuat saya lebih bahagia. Terkadang saya juga memilih tidak bekerja hanya karena saya ingin menghabiskan waktu melakukan hobby saya, merapikan koleksi foto dan video dari perjalanan saya, membaca buku yang saya sukai, atau memilih tidak bekerja biar bisa duduk di teras menikmati hangatnya matahari pagi. Teman saya kemudian mengingatkan, ada beda antara malas dan gampang puas. Dan jangan-jangan ketika saya tidak memiliki banyak impian seperti orang-orang lain karena saya tidak mau bekerja keras, karena saya malas, saya puas dengan sedikit yang saya dapatkan. Pertanyaan yang sedikit menggelitik saya “Kenapa saya memilih bersantai di usia produktif, padahal itu adalah usia di mana semua orang bekerja keras dalam hidup, jika saya terus seperti ini, maka dia hari tua saya akan bekerja keras, sementara orang lain hidup enak, dan menikmati hasil dari kerja kerasnya.

Pikirkan orang lain. Masih belum puas memberikan nasihat, salah satu teman saya melanjutkan. Jika saya tidak mau berusaha untuk diri sendiri, berusahalah untuk orang lain. Teman saya tersebut hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga, dengan pendapat suami yang ala kadarnya. Memiliki rumah saat ini bagaikan sebuah mimpi, hal yang tidak akan mungkin dia wujudkan dalam waktu dekat. Dia mengingatkan apa yang sudah tuhan berikan kepada saya. Jika saya “rajin” bekerja, bekerja yang sebenarnya dalam artian mencari uang, maka impian puluh tahunan mereka bisa saya dapatkan dalam waktu yang jauh lebih singkat. Saya memiliki kesempatan dan kemampuan, yang saya lakukan hanyalah melawan malas (hasrat saya untuk bekerja ala kadarnya disebut sebagai “malas”). Jika saya memiliki harta yang cukup saya akan lebih bisa membantu banyak orang, jika saya belum menginginkannya, orang lain bisa mengelolanya, yang saya butuhkan hanyalah rasa INGIN, ingin yang begitu bergejolak, rasa ingin seperti saya menginginkan petualang-petualang saya….

Melepaskan idealiasme. Selama ini saya hidup dengan idealisme, bahwa saya tidak akan bekerja untuk uang. Saya memilih pekerjaan bukan karena gaji yang ditawarkan, tetapi lebih demi kepuasan hati dari pekerjaan yang saya lakukan. Ketika pagi ini saya bangun, kata-kata teman saya terus terngiang di telinga saya. Haruskah saat ini saya melepaskan idealisme itu? Jika saya ingin memiliki rumah di Jabodetabek dalam waktu 4-5 tahun ke depan, maka yang harus saya lakukan adalah menghentikan hobby jalan dan menjelajah saya, melepaskan idealisme dan mulai bekerja untuk uang. Pilihan yang tidak mudah bagi saya. Tetapi sepertinya hal itu akan menjadi pilihan saya untuk beberapa tahun ke depan: saya akan melepaskan pekerjaan saya yang sekarang dan saya akan mulai bekerja untuk uang. Saya akan menjadikan ini sebagai resolusi saya di tahun 2016.

Meski saya memutuskan akan mulai bekerja untuk uang, tetapi saya melakukan itu juga bukan untuk saya sendiri. Saya memiliki teman-teman yang masih hidup dalam kekurangan, mereka tidak memiliki kesempatan seperti yang saya miliki. Saya akan lebih bisa membantu orang setelah saya bisa mandiri di kaki saya sendiri. Mereka benar, sekarang di usia saya yang masih muda dan produktif, saya tidak boleh bersantai seperti orang tua yang sudah pensiun.

RF.

2 thoughts on “Follow your dream or work for money?

  1. Awal mula baca tulisan ini sama seperti yg aku rasakan, dgn hoby travelling yg tak pernah berhenti, tp kemudian menyadarkan aq jg untuk mengejar kesuksesan yg bisa dilihat orang, makasih tulisan ini sungguh menginspirasi, menata kembali sudut pandung hidupku, hehe

    • Benar, semoga sukses hari. Semangat travellingnya pasti tidak akan pernah berhenti, bagaimanapun kita harus mengendalikannya. Tetapi bagi yang benar-benar siap mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya, dan tidak harus mendapatkan persetujuan dan pengakuan orang lain, maka keep the spirit high. Do things that make you happy, bukan pleasing others.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s