Tidak semua memiliki Lebaran yang Indah

Tidak semua orang memiliki keluarga bahagia. Dan itu juga kenapa tidak semua orang menikmati ketika pulang lebaran ke rumah. Bagaimanapun, Saya mencoba untuk mengikuti tradisi. Dan meski telah mengeluarkan banyak biaya, suasana lebaran hanya menambah derita bukannya membuat bahagia.
Di Hari pertama lebaran, dalam perjalanan ke rumah di bandara, papa dan mama yang menjemput Saya sudah mulai berdebat. Ketika di rumah, adek Saya sudah menunggu dengan pacarnya. Dan hanya selang beberapa menit, terjadilah pertengkaran hebat antara adek Saya dengan mama Saya. Yang di perdebatkan bukan masalah pacar adek Saya tetapi mengenai usaha toko yang tengah di kelola oleh adek Saya.
Adek Saya, yang laki-laki, dan dua tahun lagi akan berumur 28 tahun masih sangat tergantung dengan orang tua. Bahkan dia masih jatah belanja bulanan kepada papa dan mama. Tidak hanya itu, usaha yang dia kelola juga mengandalkan modal dari orang tua, tetapi dia tidak mengelolanya dengan maksimal. Mama Saya memberikan masukan kepadanya dan dengan sabar terus memberikan masukan, tetapi yang terjadi hanyalah pertengkaran, setiap hari berantem. Adek Saya sangat keras, mama Saya juga tak kalah keras. Mereka perang mulut dengan suara maksimal. Tidak tahu siapa yang benar diantara mereka berdua. Hanya saja Saya merasa sedih karena ketika Saya pulang ke rumah, bukannya suasana hangat rumah yang Saya dapatkan tetapi yang Saya dapatkan hanya miniatur dari sebuah neraka kecil. Neraka bumi, dan hal tersebut terjadi di hari raya.
Di hari yang sama, Saya melihat mama Saya menangis. Dia murung bersedih hati. Dia menangis terisak-isak di kamar. Di esok harinya, Saya melihat adek Saya duduk di teras rumah di depan motornya, dia terlihat seperti tengah memandikan motor, tetapi Saya menangkap air mata menitik di pipinya.
Kami hanya keluarga kecil. Kakak perempuan Saya sudah menikah, dan dia tengah berhari Saya di rumah mertua bersama dengan suami dan anak. Selain itu dia juga sudah tinggal di rumahnya sendiri, dan dia dia tidak mau lagi terlibat dengan drama keluarga ini, drama yang sudah terjadi puluhan tahun.
Tidak ada asap tanpa ada api. Mama Saya sangat keras. Dalam kamusnya hanya ada satu pilihan. IKUTI katanya. Kita tidak boleh membantah. Dia membuat keputusan sendiri. Mulutnya sangat bisa mengeluarkan kata-kata kasar. Kata-kata yang meskipun tahun berganti, tetapi kata-kata tersebut akan berbekas di hati. Kebenaran hanya ada di dia, dan kita harus mengikutinya, jika tidak maka segala sumpah serapah akan keluar dan hal tersebut tidak akan pernah bisa dihapus dari memori.
Adeknya tidak terima dengan itu semua, dia menjadi keras seperti batu. Dia tidak ingin disakiti, dia juga ingin suaranya di dengar, dia melawan. Dia melawan dengan sekuat tenaga. Jika mama mengeluarkan kata-kata kasar maka dia juga akan membalasnya. Jika kata-katanya tidak bisa melawan kata-kata mama maka dia akan mulai berteriak, dan setelah itu dia akan meninju pintu, membantu meja atau kursi atau apa pun barang yang dia temui. Tahun telah berganti tetapi tidak banyak yang berubah.
Itulah hidup. Tetapi jika selama ini kita hanya mengenal hari raya yang penuh dengan canda tawa, kebahagiaan, maaf-memaafkan tidak semuanya benar. Setidaknya tidak untuk Saya. Setiap hari Saya hanya menyaksikan pertengkaran.
Selain itu semua orang juga sibuk. Di hari pertama lebaran, mama Saya sudah sibuk menelfon banyak tukang untuk memperbaiki toko adek Saya. Adek Saya juga sudah mulai sibuk di toko. Lebaran bagi kami hanya sholat hari raya. Makan bersama setelah itu ya sudah, semua kembali ke suasana semula. Kami tidak memiliki banyak saudara.
Bagaimana dengan papa Saya? dia orang yang penuh perhatian. Semaksimal mungkin dia akan meluangkan waktunya untuk Saya. Dia akan membelikan semua makanan yang Saya suka. Dia akan bertanya mengenai kabar Saya, bagaimana pekerjaan Saya, apa yang masih menjadi impian Saya, dan kemudian kami berdiskusi banyak hal. Terkadang, darah muda membuat Saya banyak ingin lebih di dengar, bahwa Saya lebih benar, dia tidak tersinggung sedikit pun dengan sabar dia mendengarkan.
Papa Saya tidak ter obsesi dengan uang, berbeda dengan mama Saya yang selalu berbicara mengenai uang setiap harinya. Duit mama Saya lebih banyak dari papa Saya karena dia memiliki beberapa aset, tetapi baginya uang tidak pernah cukup, sebaliknya papa Saya hanya hidup dari pensiunnya tetapi bagi dia uang selalu cukup. Meski uangnya hanya sedikit tetapi itu tidak membuatnya berhenti memberi. Dia akan memberikan apa pun yang dia mampu untuk anak-nya. Berbeda dengan mama Saya, meski rambutnya sudah mulai ditumbuhi oleh uban, dia tetap ter obsesi dengan uang. Tidak hanya uang, dia memiliki banyak obsesi dan keinginan dalam hidupnya. Dalam hidupnya tidak ada kata cukup.
Tetapi tuhan katanya adil. Oleh karena itulah, mama Saya mendapatkan papa Saya, sehingga di keluarga kami ada penyeimbang. Saya tetap bisa menikmati lebaran karena papa Saya ada untuk Saya. Dia mencurahkan semua perhatian dan cinta kasihnya. Banyak kualitas bagus dari papa Saya. Papa Saya adalah kebalikan dari mama Saya, dia adalah seorang yang demokratis. Tetapi dia juga berusaha untuk menghindari konflik, dalam artian dia juga akan selalu menuruti keinginan mama Saya, dia juga akan meminta anaknya untuk melakukan hal yang sama. In the end, mama Saya tetaplah pemenangnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s