Masih ada yang lebih sulit; bukalah hati

Tuhan maha besar, dan tidak ada yang bisa kita lakukan jikalau Ia sudah berkehendak.  Memang Hidup kita banyak ditentukan oleh usaha kita, tetapi terlepas dari usaha juga ada faktor lain, dimana faktor ini juga memiliki peran signifikan dalam hidup.  Misal kesehatan.

Saya memiliki teman, namanya Devi, Devi  memiliki seorang adik perempuan yang berusia tiga tahun lebih muda darinya.  Mereka berdua tinggal di sebuah rumah kos dengan kamar yang bersebelahan.  Devi masih memiliki seorang ayah kandung dan seorang Ibu tiri.  Tetapi Dona tidak terlalu dekat dengan Ibu tiri, sedangkan bapaknya yang mulai sakit-sakitan lebih sering meminta bantuan dari pada membantu.  Dona bekerja sebagai pegawai rendahan di sebuah perusahaan nasional.  Gajinya hanya cukup untuk membayar kosan bulanan, biaya makan, dan sedikit biaya hiburan seperti nonton film.   Tetapi Adiknya, Fina, baru saja resign dari pekerjaan, dan dia tidak memiliki tabungan sehingga Fina menjadi tanggungan Devi, tentu saja Gaji Devi tidak cukup untuk membiayai hidup mereka berdua.    Dan yang lebih memprihatinkan lagi, mereka berdua sangat rentan sakit dan itu bukan sakit biasa.   Devi baru-baru ini masuk rumah sakit karena pendarahan, dokter mengidentifikasi sakitnya, dan menyarankan operasi.  Devi memiliki asuransi kesehatan dari kantornya, kantornya juga cukup murah hati dengan premi yang dibayarkan sehingga Devi bisa pergi ke rumah sakit yang lumayan bagus. Tetapi bagaimanapun tidak semua bisa di cover asuransi, tetap akan ada bagian dimana Devi tetap harus membayar.   Tetapi makin lama Devi makin merasa kesakitan sehingga dia tidak bisa lagi untuk mengelak dari operasi.  Ini bukan operasi kali pertama, sebelumnya dia pernah di operasi dengan gejala yang mirip di Singapura, waktu itu dia beruntung karena masih banyak teman-teman yang mau patungan mengumpulkan biaya untuk mendukung pengobatannya.  Tetapi ketika dia terus sakit, hampir setiap tahun selalu masuk rumah sakit, teman-temannya mulai merasa jenuh, sehingga bantuan yang diberikan kepada Devi terus berkurang.

Tetap Optimis

Devi berkulit putih dan berhidung mancung, dia sangat cantik. Dia juga memiliki pribadi yang riang dan supel.  Meski situasinya tengah sulit tetapi dia akan selalu berusaha untuk bisa membantu orang lain yang lebih tidak beruntung darinya.  Misal, pernah saya jalan bareng dengannya, dia berhenti ketika melihat seorang bapak tua yang tengah memanggul “uli & ketan” dagangannya.    Bapak itu terlihat lelah dan letih dengan peluh yang bercucuran, cuaca memang sangat panas.  Devi memborong tape dan ketannya.   Saya agak heran juga kenapa Devi harus membeli sebanyak itu, bukannya seharusnya dia menghemat uangnya? Dia hanya tersenyum ringan ketika hal pertanyaan tersebut akhirnya aku tanyakan “kasihan bapak itu, kita tidak tau berapa anak yang harus dia hidupi…”

Gali lobang tutup lobang

Banyak dari kita yang anti dengan orang yang suka gali lubang dan tutup lubang.  Dan saya pernah mendapatkan telfon dari seorang teman, Andi, yang melihat saya mulai dekat dengan Devi agar berhati-hati karena Devi suka “meminjam uang” dia akan memainkan emosi sehingga akan sulit bagi kita untuk menolak untuk memberikan pinjaman, dan sudah banyak dan mungkin tidak terhitung lagi pinjaman yang tidak dikembalikan ke Devi. Mendengar cerita dari Andi sempat membuat saya sedikit anti pati, tetapi setelah mengenal sosok Devi lebih jauh, saya justru menjadi prihatin, dan membenarkan apa yang dia lakukan, dengan pinjaman tersebutlah dia bisa bertahan hidup, dan meski dia memang tidak bisa mengembalikan pinjaman tetapi bukan berarti dia lupa, dia merasa berasalah, tetapi tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan. Dia masih beruntung masih memiliki kerja tetapi dengan segala kemalangan yang di hadapinya, dia tidak memiliki uang sisa untuk membayar hutang-hutangnya.  Bahkan sering dia harus makan seadanya, sangat sederhana, hanya nasi dan sayuran, dan terkadang ditambah telur ketika dia memiliki uang yang cukup.

Kemalangan yang tidak henti

Dua hari yang lalu saya mendengar kalau Fina, adik Devi, juga masuk rumah sakit untuk operasi kista, kemudian ada beberapa penyakit komplikasi lain sehingga sudah satu minggu lebih dia masih dirawat di rumah sakit.  Devi masih memiliki hutang 15 juta setelah dipotong oleh asuransi dari biaya perawatan dia di rumah sakit yang lalu, sekarang adiknya juga dirawat di rumah sakit dengan menggunakan asuransi dia.  Sama halnya dengan dia, ada biaya yang akan di cover dan ada juga biaya yang tidak ditanggung asuransi, untuk sementara kekurangan akan dibayarkan dulu oleh kantornya.   Satu bulan yang lalu saya mengobrol dengan Devi di sebuah coffee shop, Devi bercerita mengenai bagaimana dia pusing memikirkan tumpukan hutang-hutangnya, dan dia tidak tahu bagaimana harus membayarnya.  Sekarang dengan Fina yang juga dirawat di rumah sakit, otomatis hutang Devi pasti akan bertambah.  Di rumah sakit, tentunya ada kebutuhan akan duit cash, sederhananya, kebutuhan untuk membeli makan, dan harga makanan di kantin rumah sakit tentunya jauh lebih mahal dibanding dengan nasi sayur yang dimasak sendiri oleh devi.

Tidak ada gunanya menangis

Ketika saya menjenguk adiknya ke rumah sakit Devi mengatakan kalau dia sudah tidak bisa menangis, air matanya sudah lama kering.  Dia mencoba melihat sisi baik dalam hidup, dia tidak akan berfokus pada hutang atau kemalangannya.  Dia masih tetap bisa tersenyum di tengah banyak beban yang dideritanya.   Devi sendiri juga masih belum pulih, dia masih sering bolak -balik rumah sakit untuk check-up.   Saya banyak belajar mengenai bagaimana menjadi tegar dari Devi.  Dari dia saya melihat bagaimana sebuah perjuangan yang sebenarnya.  Devi tidak hanya menghidupi Fina, tetapi dia juga masih mengirimkan uang pulang untuk ibu tiri dan bapaknya.

Devi sosok yang penyayang, dia sangat perhatian dengan teman-temannya, dia sangat peka dengan kesusahan yang dialami oleh temannya, dan dia juga sosok humoris yang bisa menghangatkan suasana.   Saya orang yang sulit tersenyum, dan jika saya berada dalam situasi yang dihadapi oleh Devi, saya akan lebih sulit lagi untuk tersenyum.  Tetapi tidak Devi, dia melihat hidup lebih luas, bahwa hidup terlalu sia-sia jika harus dihabiskan dengan kesedihan.  Iya, dalam situasi terburuk kita, kita sedih, dan tidak ada yang bisa kita lakukan, tetapi bukan berarti kita tidak bisa tersenyum dan berbagi kebaikan dengan yang lain.

Ketika banyak orang yang menjadi semakin individualistis, yang tidak lagi peduli dengan saudara dan orang lain, dia berbeda.  Dia tidak pernah menghitung semua biaya yang sudah dia keluarkan untuk Fina, dia juga tidak pernah menuntut Fina untuk bekerja, dia tidak pernah menyalahkan bapak atau ibu tirinya.  Dia berjiwa besar.

Mengikhlaskan

Semua orang membutuhkan uang.  Dengan semakin tingginya biaya hidup, orang menjadi semakin perhitungan dalam mengeluarkan uang, terutama ketika uang tersebut untuk membantu orang lain.  Dulu, saya tidak begitu sadar dengan uang, saya melihat uang hanya sebagai sebuah titipan, yang bisa saya gunakan untuk membantu orang lain. Iya, saya sering memberi.  Hingga suatu saat, saya mulai berpikir kalau ketika banyak yang saya beri, apa yang tersisa untuk saya? Dan ketika kesadaran tersebut muncul, saya mulai mengurangi jumlah yang saya berikan.  Awalnya saya mencoba untuk tidak memberi sama sekali, tetapi agak sulit.  Saya sangat mudah tersentuh dan saya masih memiliki keyakinan bahwa meski saya banyak memberi saya tidak akan pernah kesusahan.  Tetapi bagaimanapun jumlahnya yang saya berikan berkurang, dan tabungan saya mulai bertambah.  Devi memiliki hutang dengan saya.  Dia sudah beberapa kali meminjam uang.  Saya yakin kalau dia tidak akan mampu mengembalikan.  Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya mengikhlaskan.  Saya mengatakan kepada Devi kalau dia tidak harus membayar kembali hutangnya. Saya memberitahukan hal tersebut berharap dapat mengurangi sedikit beban psikologisnya.  Saya juga memberikan sedikit uang untuk sedikit kebutuhan dia di rumah sakit.

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah saya pernah menonton sebuah film yang berjudul pay it forward, film tersebut hingga sekarang terus menjadi inspirasi saya dalam berbuat.   Saya pernah menerima kebaikan, dan mungkin cukup sering, beberapa kemudahan diberikan oleh tuhan, sehingga sudah menjadi kewajiban saya untuk meneruskan kembali kebaikan yang saya terima pada orang lain…

Orang terdekat saya mempengaruhi saya agar saya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, jangan terlalu murah, mereka terus mengingatkan bagaimana investasi itu sangat penting, mereka juga mengatakan kalau saya juga bukan belum dalam posisi memberi.  Tetapi terus kapan? Apakah dengan alasan cicilan mobil baru yang kita beli kita tidak bisa membantu orang lain? Bagaimana jika kita naik busway dan kita masih bisa memberi?

Ketika kita lagi susah, banyak yang lebih sulit dari kita. Dan jika kita membuka mata dan hati dan tergerak membantu kesulitan orang maka beban di dunia ini akan sedikit berkurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s