Refleksi: kehidupan anak petambak di kampung terpencil

Saat ini saya berada di sebuah perkampungan keluarga petambak, dan saya berjumpa dengan Zulaika. Zulaika bekerja di sebuah koperasi petani tambak, dan dia sudah bekerja kurang lebih dua tahun di koperasi tersebut.  Kampung dimana koperasi tersebut berada sangat jauh, dibutuhkan waktu kurang lebih 10 jam untuk bisa tiba di kampung tersebut, jalanan yang jelek, becek, tida ada ojek (memang cinta laura), jalanan yang masih berupa tanah berbatu yang tidak rata.    Di kampong Zulaika juga tidak ada listrik.    Bayangkan, Indonesia, zaman sekarang masih belum ada listrik. Tetapi Zulaika menyukai kampungnya.  Dia bahagia.

Banyak warga menggunakan genset, tetapi tentunya biaya genset tersebut tidak murah, mereka harus mengeluarkan banyak uang jika ingin menonton dewi persik di TV.  Tetapi mereka bisa berhemat jika genset hanya digunakan untuk penerangan atau mencas HP, hanya saja, tentu mereka juga butuh hiburan, ya, seperti sinetron centini🙂

Selain itu warga juga harus mengeluarkan uang untuk membeli air bersih, mereka bisa menggali sumur, tetapi sumur tersebut dialiri oleh air asin, tentu saja disebabkan karena mereka tinggal di daerah payau.   Tidak banyak hiburan yang ada di kampung kecil tersebut.  Untuk bisa mencapai ibu kota kabupaten dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam, dan ongkos untuk ke kota tidak murah, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki kepentingan berangkat ke kota, kalau tidak memilih tinggal di kampung.  Seperti Zulaika, dia hampir tidak pernah berkunjung ke kota.  Harinya hanya dihabiskan antara rumah, dan tempat kerjannya yang sangat sederhana.

Bagi yang terbiasa tinggal di kota besar, tentunya bisa mendapatkan buku di gramedia dengan mudah, disini akses membeli buku sangat sulit, bagi anak rajin seperti Zulaika yang suka membaca, dia harus memesan online jika ingin membaca sebuah buku, tetapi ongkos kirim buku yang mencapai 75 ribu dengan JNE atau 40 ribu dengan pos, harga yang lebih mahal dari harga buku itu sendiri.

Di pusat kampung, tidak banyak jajanan.  Pilihan makanan terbatas.  Memang Indomaret bisa ditemukan, dan jumlahnya juga lumayan, tetapi untuk mencapai indomaret tersebut lagi-lagi tidak mudah.  Dibutuhkan waktu 15 -20 menit menggunakan sepeda motor, dan itupun jikalau jalanan kering, tidak becek karena hujan.  Jika hujan jalanan becek dan licin, yang tentu saja berbahaya, apalagi bagi perempuan ayu dan feminim seperti Zulaika.

Tetapi banyak orang bahagia tinggal disini.  Tambak mereka bisa mencukupi kebutuhan mereka.  Dan kebutuhan mereka, berbeda dengan orang yang tinggal di kota besar, sangat sederhana.  Mereka tidak membutuhkan baju branded, mereka tidak membutuhkan satu jaket seharga 600 ribu atau satu juta di matahari, mereka cukup puas dengan baju yang mereka beli di pasar.  Tas-pun, mereka menggunakan merek apapun, merek tidak penting, yang penting tas, tidak seperti Ami kenalan saya, yang pergi ke Singapura hanya untuk jalan-jalan dan beli tas seharga dua juta.  Bagi Ami tas tersebut murah.  Dengan mata berbinar dia bercerita pada saya, “tahu ngga, di Indonesia tas ini masih harga normal, harganya masih 3 juta”.  Tetapi Ami tidak menyadari kalau harga tasnya sama dengan gaji Zulaika selama dua bulan.  Itupun Zulaika harus bekerja 7 hari seminggu, dari jam 8 hingga jam 4 sore. Tidak ada hari libur.  Tetapi meskipun demikian masyarakat di kampung tersebut masih memiliki tabungan, tabungan yang tidak sedikit, sedangkan pengeluaran untuk gaya hidup yang relatif kecil.  Zulaika yang berkulit putih dan berhidung mancung selalu tersenyum.  Ketidaktahuan dia mengenai dunia luar membuat dia bahagia.  Dia jarang menonton TV karena tidak ada listrik di rumah,  generator di rumahnya hanya menyala 3 jam sehari.  Dan tanpa TV, tanpa pengaruh modernitas dan kehidupan kota besar, dia merasa puas, aman dan tenang. Dia baik-baik saja.

Dia puas dengan pekerjaannya di koperasi, di koperasi tersebut dia hanya memiliki satu orang rekan kerja yang juga perempuan dan seusia dengannya, Nina. Nina adalah satu-satunya teman Zulaika.  Dia dan Nina sudah seperti saudara. Meski tidak memiliki banyak teman, nina tidak pernah merasa kesepian, dan tidak banyak teman juga berarti hidup lebih murah.  Jika anda banyak teman di kota besar, artinya anda akan sering nongkrong, dan sekali nongkrong di starbuck anda harus siap dengan 60-100 ribu (minimal lo ya). Gaji yang dia peroleh memenuhi semua kebutuhannya, bahkan, dia masih memiliki sisa uang yang bisa ditabung.  Tidak ada mimpi besar, yang ada hanya menjalani hidup.   Tidak ada weekend get away trip, tidak ada rencana backpacking ke Bali, tidak ada hunting kuliner ke semarang, tidak ada snorkelling ke pahawang, dan ternyata lagi-lagi…. hidup Zulaika baik-baik saja.

Bahagia ternyata murah.  Bagi Ami, kebahagian adalah memiliki tas bagus dan mahal, sedangkan bagi Zulaika, bahagia adalah menjalani hidup, dan bersyukur dengan sedikit yang didapatkan.   Pribadi seperti Zulaika sudah mulai hilang di kehidupan zaman modern, bagi banyak orang yang hidup di kota besar, bahagia adalah kata yang mahal, bahkan bagi banyak orang, bahagia tidak bisa di beli.  Sehingga, beruntunglah anda yang merasa bahagia meski hidup sederhana. Hidup di kota besar dengan segala tuntutan dan  persaingan yang semakin ketat membuat orang bekerja keras, bahkan ektra keras, saking kerasnya mereka tidak bisa lagi menarik nafas.  Ketika mereka sudah bekerja keras, ternyata masih banyak orang lainnya yang bekerja lebih keras lagi dari mereka, dan dunia saat ini hanya memberikan ruang bagi yang terbaik- iya, hanya yang terbaik yang bisa bertahan.  Bertahan tidak mudah:  Tagihan, cicilan, dan banyak impian yang harus dikejar.  Orang terus berlari, sementara Zulaika hanya berjalan santai dan tersenyum.

Saya sendiri adalah bagian dari masyarakat modern.  Ketika pagi ini saya duduk menikmati nasi uduk yang dibelikan oleh Zulaika, saya merasa iri dengan kehidupan Zulaika yang tenang dan sederhana.  Pada awalnya saya berpikir kalau alangkah rugi dan menyedihkannhya menjadi Zulaika, karena, karena keterbatasan lingkungan tempat tinggalnya, dia tidak bisa mengembangkan potensinya.  Saya berfikir kenapa dia tidak keluar, dan berkuliah ke Jawa (iya, begitulah, mereka menyebutnya Jawa, sebuah pulau yang memiliki banyak pilihan untuk pendidikan terbaik).  Kenapa sosok pintar dan baik seperti dia harus membuang masa depannya di tempat seperti ini? tetapi saya salah, justru dengan dia menetap di desa kecil ini, dia bisa mengabdi, membagi ilmunya dengan koperasi kecil sederhana, yang mana anggota dari koperasi tersebut banyak yang dulunya tidak sekolah, dengan bekerja disana, dia bisa ikut memajukan koperasi tersebut, dan juga mendapatkan gaji.  Bagi dia gaji yang dia dapatkan cukup, dia tidak berharap mendapatkan lebih.  Dia bersyukur kalau di tempat terpencil dan tertinggal seperti desanya dia masih bisa mendapatkan pekerjaan. “Bekerja itu bukan hanya untuk mendapatkan gaji, tetapi juga untuk berkarya dan mengabdi” ucapnya pada saya, sambil menyuap pelan nasi uduk dengan telur balado yang menjadi sarapan kami pagi itu.

Tetapi, juga ada anak muda di desa tersebut yang mendambakan kehidupan “sibuk” ala kota besar, mereka ingin memiliki handphone keluaran terbaru, mereka mengutuk sulitnya mengakses sinyal dari desa kecil mereka.  Mereka ingin gaul, mereka ingin eksis, mereka ingin keren, mereka penuh dengan mimpi untuk menjadi sukses ala kota besar.  Bagi mereka, tetap tinggal di desa adalah sebuah kutukan.

Tetapi saya justru mendambakan kehidupan sederhana seperti Zulaika, saya juga percaya kalau saya tidak sendiri, pasti ada beberapa orang lain di hutan beton saya yang juga bermimpi untuk bisa melepas semua dan bisa hidup damai dan tenang seperti Zulaika.  Setelah menghabiskan nasi uduk, saya menawarkan untuk mebuang sampainya di tong sampai di halaman.  Saya melangkahkan kaki keluar.  Halaman koperasi tersebut sudah ramai dengan petani yang berdatangan membeli pakan dan bibit ikan.  Cuaca cerah dengan langit biru membentang indah.  Zulaika pagi itu menggunakan baju dan kerudung berwarna biru, dia sama cerahnya dengan cuaca di pagi ini.

Beberapa tahun kemudian Zulaika yang saat ini berumur 20 tahun mungkin akan menikah, dia dan suaminya akan bekerja di tambak, dan jika dia punya anak- ,umgkin dia tidak akan lagi bekerja di koperasi, semua kebutuhan dasar tercukupi, dan mereka tidak memiliki kebutuhan untuk pergi jalan-jalan ke Eropa, Australia…. mereka bahagia dengan kehidupan sederhana di sebuah kampung yang dikelilingi oleh hutan sawit dan sawah.. kampung yang jauh dari modernitas dan pembangunan. Kampung yang akan menjadi lokasi tempat tinggal saya selama satu minggu kedepan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s